12 November 2007

Lanjutkan Perjuangan

Oleh: Tantri Suryokusumo

Hampir dua minggu setelah almarhum meninggal dunia (akibat kanker kelenjar getah bening yang baru terdiagnosis dua bulan sebelumnya), seorang pengajar ilmu komunikasi bilang, "(Semua) Orang penyiaran pasti kenal Pak Zainal,” begitu ia menyadari nama belakang saya Suryokusumo. Aneh, setelah ayah, guru, sahabat, & lawan debat saya meninggal, saya seperti baru tahu bahwa seorang Zainal A. Suryokusumo (atau biasa disapa Bang Zen, Babe, Bung Daktur) adalah big thing bagi banyak orang.

"Ngapain kamu kerja di radio?" itu kalimat almarhum, sewaktu dengan bangganya saya bercerita tentang diterimanya saya sebagai penyiar di sebuah stasiun radio swasta papan atas. Sekitar sembilan tahun kemudian, saat terbaring sakit di ICU RS MMC, almarhum menulis di selembar kertas (karena tidak bisa bicara akibat harus menggunakan alat bantu pernapasan): "Jangan kecil hati." Lalu dengan tangannya yang masih sulit berkoordinasi dengan keinginannya berkomunikasi, almarhum menulis lagi: "Kita sama-sama siaran."

Bung Zainal (kedua dari kiri) bersama Inre,
puteri kedua, yang ketika itu masih balita, dalam acara
perkemahan Bengkel Belia ARH tahun 70-an. Berdiri paling kiri:
Iwan Padmadinata, salah satu penyiar Radio ARH 70-an.

Sebenarnya, sampai almarhum wafat 30 Agustus 2007, saya belum mengerti apa maksud tulisan-tulisan pendeknya itu. Interpretasi pesan sangat tergantung dari penerimanya. Jadi mudah-mudahan sah saja kalau saya menginterpretasikan tulisan-tulisan pendek almarhum di ICU tadi, sebagai penyemangat bagi saya, bahwa bekerja di radio tidaklah seburuk yang pernah disampaikannya kepada saya.

Uniknya, walau anak-anaknya selalu berusaha dijauhkan dari kemungkinan bekerja di dunia penyiaran, nyatanya 2 dari 3 anaknya pernah & masih bekerja di dunia yang dibenci sekaligus dicintainya itu. Barangkali almarhum mau menyampaikan pada kami, "Biar Mama saja (begitu saya memanggilnya) yang berurusan dengan dunia penyiaran Indonesia yang nggak pernah jelas ini."

Usahanya menghalangi putri-putrinya bekerja di dunia penyiaran, tidak menghalangi semangatnya membenahi dunia penyiaran dan kebebasan perolehan informasi bagi semua. Tak heran beberapa minggu menjelang sakit pun almarhum masih sibuk bertugas keluar kota. Kesibukan yang semasa kecil tidak pernah saya mengerti, "Kenapa Mama sibuk tapi nggak pernah bisa sebanyak uang & sengetop orang lain?"

Semasa hidupnya, rasanya banyak yang sudah saya pelajari dari almarhum. Sepeninggalnya, saya justru merasa terlalu banyak yang belum saya pelajari darinya. Sampai hari-hari terakhir hidupnya pun, saya masih tidak tahu dari mana harus memulai mengumpulkan pemikiran-pemikirannya yang tersebar di belasan note book, sebuah laptop yang rusak LCD-nya, ratusan karya tulis, dan sebuah flash disk.

Almarhum masih sempat berpesan ke sejumlah sahabatnya untuk melanjutkan perjuangnya yang pernah dimulainya. " Saya bekerja untuk cucu & cicit saya," demikian salah satu kalimat almarhum yang selalu saya ingat, saat berdebat tentang RUU Penyiaran (yang sekarang menjadi UU Penyiaran) dengan seorang lawan bicaranya melalui telepon genggam.

Banyak ilmu almarhum yang belum saya pelajari untuk ketahui. Saya hanya tahu bahwa saya bersyukur menjadi putrinya.

[Tulisan ini, juga dapat dilihat di blog penulis: http://www.serampangan-bermedia.blogspot.com]

[Tantri Suryokusumo, adalah putri bungsu almarhum Zainal Abidin Suryokusumo, yang juga berprofesi sebagai penyiar radio (antara lain radio Female) mengikuti jejak ayahnya. Selain itu ia juga mengajar di beberapa perguruan tinggi swasta di Jakarta, di antaranya London School of Public Relations]

07 November 2007

Sepotong Kenangan yang Menggugat

Oleh: Arthur J. Horoni

Pesan–pesan singkat (sms) Mas Zen sering mampir ke HP saya. Isinya berupa gugatan terhadap situasi tanah air. Naga-naganya, saat sedang sumpek, Mas Zen ingat saya, lantas mengisahkan uneg-unegnya.

Yang sempat saya catat, beberapa gugatan dia terhadap cara pemerintah menangani bencana gempa bumi dan tsunami Aceh 2004, yang pada bulan-bulan pertama terkesan centang-perenang.

Ini beberapa petikan SMS Mas Zen:
  • Bencana Aceh, dua potret paling telanjang tentang: Ketimpangan redistribusi kekayaan nasional. NAD seperti wilayah luar Jawa: papah infrastruktur, jalan, telkom, rumah sakit, dan lain-lain. Ketidakbecusan birokrasi pemerintah atasi situasi darurat.
  • Saking lamanya dibohongi penguasa, mayoritas kita ibarat kelamaan di WC, nggak lagi kecium bau busuk. Civil Society memang harus berbuat.
  • Elit bangsa ini pinter ngomong walau sering nggak masuk akal, tapi nggak pinter bekerja. Pasnya barangkali elite bangsa pinter ngeles
  • Gue khawatir, kesemrawutan kerja birokrasi di ground zero, dalam keadaan normal aja kacau, berakibat terlantarkan korban yang selamat dan relawan, bersumber dari kompetisi para elit penguasa. Cuma kebo kali yang nggak bisa liat realitas itu di daerah bencana.
  • Selagi pejabat-pejabat RI tidur pules, Inggris bikin pos info kemanusiaan di Banda Aceh. Bisa-bisanya ya orang-orang yang selalu atas nama tim merah-putih tuh, gini ari masih ngorok.

Menanggapi sms Mas Zen, saya menulis, birokrasi kita pada ketularan penyakit PDIPP yakni Penurunan Daya Ingat, Pendengaran dan Penglihatan, maka Semakin Banyak Yang Jadi Korban ***

05 November 2007

Bung Zainal yang Tak Kenal Lelah

Keterangan Foto:
Bung Zainal (berdiri nomor 3 dari kiri) bersama kru Radio ARH
dan anggota Bengkel Belia ARH. Tampak pula Uni Ira, isteri Bung Zainal (berdiri paling kanan). (Foto: Koleksi Arthur JH)

Oleh: Zukifli Ibrahim

Bung Zainal Abidin Suryokusumo, adalah seorang pekerja keras. Ini dibuktikannya sejak hari-hari pertama Radio ARH (Arief Rachman Hakim) berdiri. Setiap hari, sejak jam enam pagi, Bung Zainal sudah “bercuap-cuap di udara” menyapa para pendengar dengan panggilan: “Sobat-sobat pendengar di wilayah Jakarta”. Lalu mengingatkan para pelajar dan mahasiswa, apakah sudah menyiapkan alat-alat tulis dan bahan-bahan pelajaran untuk hari itu? Kepada para pendengar yang sudah bekerja, ia juga tak pernah lupa mengingatkan mereka agar segera menyiapkan alat-alat kerja mereka. “Sementara waktu sudah menunjukkan pukul 06:30 WIB, ayo bangun dan bersemangat untuk melaksanakan tugas masing-masing, jangan sampai terlambat,” ujarnya, setiap pagi.

Yang bertugas setiap pagi di Radio ARH ketika itu, adalah “2 Z”. Yakni, Zainal Abidin Suryokusumo dan Zulkifli Ibrahim (Zul). Jika Bung Zainal siaran antara jam 6:00-07:00, maka yang menjadi operatornya adalah Zul. Sedangkan antara jam 07:00-08:00, giliran Zul yang siaran, dan gantian Bung Zainal yang menjadi operatornya

Setiap pagi, Bung Zainal dibekali isterinya, Ira, roti diolesi mentega dan telur mata sapi. Juga satu termos penuh air panas, yang digunakannya untuk menyeduh teh atau kopi, sambil siaran. Sang penyiar yang satu ini suka sekali kopi kental, yang diseduhnya dalam sebuah mug berukuran besar, cukup sampai siang.

Jam 08:00, Bung Zainal bersuara lagi di depan mikrofon, membacakan Warta Berita Dunia, yang bahan-bahannya dihimpun dari berbagai sumber, termasuk BBC London, Radio Australia dan Voice of America (VOA). Bung Zainal mengolahnya, malam hari, menjadi berita khas Radio ARH. Banyak pendengar ketika itu menilai, berita-berita Radio ARH lebih up to date daripada berita Radio Republik Indonesia (RRI).

Berita yang juga diolah oleh Bung Zainal adalah Berita Ekonomi dan Industri, yang disiarkan setiap jam 11 siang. Dibantu oleh Syahrial Muluk Nasution, yang bersama-sama Bung Zainal pernah berkiprah di Radio Ragam, Jakarta Selatan, milik Laskar Ampera Arief Rachman Hakim Rayon Panjaitan. Dengan daerah cakupan: Kebayoran Baru dan Kebayoran Lama. Bung Zainal juga membuat features untuk siaran pukul 17:00 setiap harinya.

Siaran Pendidikan Pemuda TITIK TEMU.

Tahun 1974, bekerjasama dengan LP3ES (Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Pengembangan Ekonomi-Sosial), Radio ARH meluncurkan Siaran Pendidikan Pemuda (SPP) TITIK TEMU, berisi features dan reportase tentang berbagai masalah ekonomi dan sosial di seluruh Indonesia, termasuk kultur masyarakatnya. Untuk itu para redaktur SPP pun mewawancarai berbagai narasumber dari beragam lapisan, mulai dari para petani dan buruh di daerah, sampai elite nasional.

Pada awalnya, TITIK TEMU lebih mengedepankan persoalan-persoalan dari propinsi ke propinsi. Setiap propinsi dibahas selama satu bulan siaran, tentu saja dengan berbagai aspeknya, seperti kultur dan kekayaan alamnya. Siarannya setiap hari, Senin sampai Sabtu, pagi dan malam (ulangan).

Dalam perkembangan berikutnya, isi TITIK TEMU pun semakin beragam dengan berbagai rubriknya, seperti: Penampilan Orang Musik (bahasan tentang perkembangan musik pop Indonesia), Ufuk Budaya (features tentang seni-budaya), Ilmu Pengetahuan Alam, dan Kaki Langit (rubrik sastra). Di Siaran Pendidikan Pemuda ini bergabung sejumlah wartawan, antara lain Tarman Azzam (sekarang ketua Umum PWI - Persatuan Wartawan Indonesia - Pusat), Masmimar Mangiang (kini Pemimpin Redaksi salah satu harian di Ibukota), Rahmat Ismail (kini pemilik Majalah Sabili), Fachri Muhammad, yang terkenal dengan nama on air-nya: Mohammad Akbar (kini pengusaha perikalanan) Edward Soaloon Simanjuntak (almarhum, terakhir redaktur Majalah Prisma), Iwan Padmadinata (kini penasihat Pengurus Daerah PRSSNI Jawa Barat), Paulus “Kelik” Widiyanto (kini fungsionaris PDI Perjuangan), Arthur John Horoni (kini aktivis advokasi perburuhan di Sumatera Utara, dan aktivis Yakoma PGI –Yayasan Komunikasi Massa Persatuan Gereja Indonesia) dan Billy Soemawisastra (kini di Liputan 6 SCTV).

Metode yang diterapkan dalam mengelola dan mengudarakan SPP Titik Temu ini, merupakan hasil studi banding Bung Zainal Abidin Suryokusumo, di Jerman. Ketika itu Bung Zainal dikirim ke untuk magang di Radio Deutsche Welle, Jerman, sebagai hasil kerja sama lembaga swadaya masyarakat FNS (Friederich Neumann Stiftung) dengan LP3ES.

Di dalam Titik Temu tersebut, Bung Zainal juga membuat rubrik konsultasi yang dinamakan Kontak Pendengar. Acara ini membahas surat-surat dari pendengar, yang menanyakan berbagai macam permasalahan, mulai dari masalah pendidikan, hukum, sampai rumah tangga. Berkat acara inilah, Bung Zainal kemudian dikenal dengan julukan Bung Daktur, dan tersohor dengan sapaannya yang hangat: “Bung Daktur di sini, Hallooouuu.”

Untuk menjawab surat-surat tersebut, Bung Zainal terlebih dulu harus bekerja keras membuka buku-bukunya termasuk sejumlah ensiklopedi yang tersedia di studio, dan berdiskusi dengan teman-temannya di Radio ARH. Bung Zainal tak pernah malu bertanya untuk soal-soal yang kurang dikuasainya. Untuk masalah-masalah keagamaan, misalnya, ia akan bertanya kepada Amir Syarifuddin Nawawi, Nasihin Hasan atau Samian El-Faizi, yang merupakan jebolan dari IAIN Jakarta itu. Karena mampu menjawab semua pertanyaan di Kontak Pendengar, banyak pendengar menjuluki Bung Zainal sebagai professor.

Radio ARH pada waktu itu, mempunyai kelompok-kelompok pendengar di berbagai wilayah Jakarta. Setiap enam bulan sekali, para anggota kelompok-kelompok pendengar ini berkumpul di Taman Ismail Marzuki (TIM) untuk membicarakan kelemahan-kelemahan SPP, dan apa saja yang harus diperbaiki. Pada akhirnya, kelompok-kelompok pendengar ini digabungkan dalam satu organisasi yang disebut Bengkel Belia ARH, dan Zainal Suryokusumo, menjadi pembina utamanya.

Selain SPP Titik Temu, Radio ARH juga memiliki sejumlah program siaran lainnya, termasuk siaran-siaran kedaerahan, dengan penyiar yang berlainan. Dan, setiap penyiar Radio ARH dituntut untuk mempunyai gaya sendiri, tidak boleh meniru orang lain, apalagi meniru penyiar radio lain. Termasuk, pembaca berita, tidak boleh meniru gaya penyiar RRI (karena selain Radio ARH, hanya RRI, radio yang menyiarkan berita ketika itu).

Itulah sekelumit kiprah Bung Zainal di Radio ARH, yang membuktikan bahwa sosok yang satu ini memang tak pernah kenal lelah dan tak kenal menyerah. Sampai akhir hanyatnya, ia aktif memperjuangkan hak-hak wartawan dan penyiar. Ia ikut menyusun Rancangan Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers.

[Zulkifli Ibrahim, adalah mantan penyiar Radio ARH, anggota Laskar Ampera Arief Rachman Hakim (ARH), yang sempat menjadi Penanggung Jawab Radio ARH dan Ketua Yayasan Radio ARH, setelah radio ini berganti kepemilikan (berada di bawah pengelolaan manajemen Grup Bimantara). Kini ia aktif sebagai Kepala Biro Daerah Depok, Surat Kabar Fajar Metro.]

Radio ARH, Riwayatmu Dulu

Keterangan Foto:
Ali Sadikin sedang menerima plakat Radio ARH, yang diserahkan oleh Zainal Abidin Suryokusumo, selaku penanggung Jawab Radio ARH, sebagai kenang-kenangan atas berakhirnya masa jabatan Bang Ali sebagai Gubernur KDKI Jakarta. Berdiri paling kanan: Sandra Paat, salah seorang penyiar Radio ARH. Foto ini diambil pada sekitar tahun 1977. (Foto: Koleksi Zul).

Oleh: Zulkifli Ibrahim

Kurun 1996-1969 (pasca keruntuhan Orde Lama), di Daerah Khusus (dulu: Chusus) Ibukota Jakarta, bermunculan radio-radio siaran (amatir) yang jumlahnya cukup fantastis: sekitar 700 radio. Sebagian besar merupakan milik perorangan.

Kebutuhan akan komunikasi dan penyebaran informasi secara cepat, merupakan salah satu faktor yang mendorong tumbuhnya radio-radio, yang bagaikan cendawan di musim hujan itu. Media informasi seperti surat kabar dan majalah, dianggap tidak efisien dan efektif lagi saat itu. Ditambah lagi dengan eforia kebebasan berekspresi pasca perjuangan 1966, yang membangkitkan apreasi masyarakat terhadap berita-berita keseharian masyarakat yang up to date.

Hanya dengan cara mengubah fungsi radio listrik, yang biasanya hanya dipergunakan sebagai radio penerima (receiver) menjadi radio siaran (transfer), maka muncullah radio-radio amatir tersebut. Proses pembuatannya memang tergolong sederhanya. Pertama, menyambungkan input amplifier yang terdapat pada peralatan pemutar musik/piringan hitam (yang saat itu populer dengan sebutan pick up atau gramophone), dilengkapi perangkat pemutar sekaligus perekam lagu (tape recorder) yang menggunakan pita magnetik lebar dan panjang, serta penggulung pita (reel) berukuran besar.

Kemudian, dibuat output yang dihubungkan ke antena dengan tiang sederhana, terkadang hanya bambu, sebagai antena pemancar. Karena sifatnya yang tidak memiliki izin resmi inilah, radio-radio tersebut dijuluki Radio Siaran Amatir. Satu-satunya radio yang memiliki izin resmi saat itu, hanyalah Radio Republik Indonesia (RRI).

Keberadaan radio amatir yang sangat banyak itu, tanpa disadari telah mengganggu frekuensi-frekuensi khusus yang biasa digunakan instansi-instansi pemerintah, seperti instansi telekomunikasi, penerbangan dan perkapalan. Sehingga perlu dilakukan penataan dan penertiban.

Akhirnya, Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota, Ali Sadikin, bersama Kementrian Perhubungan dan Instansi Telekomunikasi, melakukan penertiban dengan menerbitkan sejumlah peraturan. Radio-radio amatir yang tetap ingin mengudara dan didengar khalayak, harus memiliki: izin frekuensi; badan hukum dan struktur organisasi; penanggung jawab siaran; kepala studio; bangunan permanen dengan pembagian ruangan untuk siaran; pemancar dan diskotik; serta lahan yang memadai untuk membangun menara antena pemancar (tower).

Embrio Radio ARH.
Dari sekian banyak radio amatir yang terjaring penertiban itu, terdapat pula beberapa radio sejenis yang dikelola oleh para aktivis mahasiswa 1966, yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dan Laskar Ampera Arief Rachman Hakim (ARH). (Sebagai cacatan, nama Arief Rachman Hakim diambil dari nama aktivis mahasiswa Universitas Indonesia tingkat 6, yang gugur dalam aksi menentang Soekarno di depan istana presiden, dan Ampera adalah singkatan dari Amanat Penderitaan Rakyat, slogan perjuangan 1966).

Laskar Ampera ARH, memiliki tujuh markas rayon dan satu markas pusat. Masing-masing markas rayon menggunakan nama Pahlawan Revolusi yang gugur dalam peristiwa G30S/PKI, tahun 1965. Ketujuh markas rayon tersebut tersebar di seluruh wilayah Jakarta, dan masing-masing memiliki radio amatir. Selain juga, markas pusat. Sehingga secara keseluruhan, Laskar Ampera ARH memiliki delapan radio amatir.

Markas Pusat, yang beralamat di jalan Kramat Raya nomor 97, memiliki Radio Siaran Amatir dengan nama AK-97; Yon S. Parman (Gunung Sahari, Senen, Matraman) dengan Radio Siaran Amatir; RC-77; Yon Sutojo (Jatinegara, Kampung Melayu, Cawang) Radio Siaran Amatir: Sutojo; Yon Harjono (Roxy dan Grogol) Radio Siaran Amatir: RH-66 ; Yon Soeprapto (Pasar Baru, Jalan Kartini) Radio Siaran Amatir: Swanara; Yon A. Yani (Menteng, Setia Budhi) Radio Siaran Amatir: A. Yani; Yon Tendean (Tanjung Priok) Radio Siaran Amatir: Cora; dan Yon Panjaitan (Kebayoran) Radio Siaran Amatir: Cora.

Radio-radio amatir ini disarankan untuk bergabung (merger) menjadi satu radio, dengan satu paket izin penyiaran. Walhasil, tujuh dari delapan radio Laskar Ampera ARH ini, bersedia bergabung di bawah satu bendera: Radio ARH. Selain Radio ARH, ada sejumlah radio perorangan yang juga memperoleh izin penyiaran saat itu, antara lain Radio Draba, Cakrawala, Ramako, El-Shinta dan lain sebagainya. Kesemua radio yang mendapat izin penyiaran ini kemudian menjadi radio komersial, dengan sebutan Radio Siaran Swasta Niaga (belakangan diubah menjadi Radio Siaran Swasta Nasional).

Setelah resmi menjadi Radio ARH, Gubernur Ali Sadikin menghibahkan sebuah bangunan di komplek Taman Ismail Marzuki (TIM), jalan Cikini Raya 73 Jakarta Pusat, untuk dijadikan pusat kegiatan penyiaran radio ARH, sebagai salah satu bentuk penghargaan untuk Laskar Ampera ARH. Sejak itu ARH pun tampil menjadi radio yang sangat diperhitungkan, karena memiliki keunikan tersendiri, dan setiap penyiar Radio ARH, diwajibkan untuk mengikuti program pendidikan penyiaran Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI).

Kini, setelah Radio ARH berganti kepemilikan, bangunan (untuk tidak menyebut gedung, karena terlalu kecil – Red) eks-studio Radio ARH di komplek TIM, difungsikan sebagai Sekretariat Ikatan Keluarga Besar Laskar Ampera Arief Rachman Hakim (IKBLA-ARH).

01 November 2007

Siapakah Bung Daktur ARH?

Oleh: Billy Soemawisastra & Tantri Suryokusumo

Bung Daktur adalah nama julukan "on air" Zainal Abidin Suryokusumo (ZAS), yang selama dekade 70-an dan 80-an, mengasuh rubrik "Kontak Pendengar" Siaran Pendidikan Pemuda TITIK-TEMU Radio ARH (Arief Rachman Hakim) sekaligus penanggung jawab radio swasta tersebut. Setiap hari (Senin s/d Jum'at) pagi dan malam (siaran ulangan) Bung Daktur (ditemani Atty Nurly) menjawab berbagai pertanyaan pemirsa, mulai dari soal-soal sosial-kemasyarakatan, sampai yang sifatnya konsultasi pribadi. Ratusan surat diterima Bung Daktur setiap harinya, hingga si Bung pun nyaris kewalahan.

Tentu saja bukan cuma itu peran ZAS. Ia juga aktif sebagai Pembina Utama (istilahnya: Datuk) Bengkel Belia ARH, kelompok anak muda putus sekolah, yang disalurkannya melalui berbagai kegiatan kreatif. Di luar Radio ARH, ZAS tak pernah lelah memotivasi para pekerja broadcast (radio siaran swasta nasional) baik sebagai pengurus PRSSNI (Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional), anggota Dewan Pers maupun sebagai trainer senior. Kegiatan ini terus dilakukannya, bahkan setelah ia tak lagi memimpin Radio ARH (yang belakangan berganti pemilik).

Mantan aktivis KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) dan Laskar Ampera Arief Rachman Hakim (ARH) ini, pernah pula selama beberapa tahun menjadi Sekretaris Jenderal (Sekjen) Fosko '66 (Forum Komunikasi Angkatan '66). Namun kemudian mengundurkan diri dari organisasi ini, karena rekan-rekan seperjuangannya (antara lain Fahmi Idris, Ekky Sharuddin, Louis Wangge) bersepakat membawa Fosko '66 ke ranah politik. Malahan, tak lama kemudian, Laskah ARH yang dicintainya bergabung dengan "mesin politik" terbesar saat itu: Golkar. ZAS, yang kurang suka dengan kegiatan politik praktis itu pun semakin "membenamkan" diri ke dalam berbagai kegiatan sosial dan pendidikan keradioan, sampai akhir hayatnya. (Lihat: Mas Zen Sang Guru Pembebasan)

Bermula dari Radio Bawah Tanah.

Zainal Abidin Suryokusumo, lahir di Bondowoso, 25 Mei 1939, namun semenjak masa kanak-kanak sudah tinggal di Jakarta, dan meraih Sarjana Muda di FHPM/IPK UI, pada tahun 1968.

Pelatihan-pelatihan/studi banding (comparative study) yang pernah diikutinya adalah: 1) Jurnalistik, pada Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia/IPMI, 1967-1969, dari tingkat dasar hingga TOT; 2) Job Training Programming Pendidikan untuk Pemuda melalui Radio, di stasiun-stasiun Radio Publik Republik Federasi Jerman; WDR, HR, SFB dan RIAS, selama musim panas 1974; 3) Pemasaran; pada Grup Studi Periklanan, 1976-1978; 4) Studi Banding (comparative study) perkembangan Penyiaran Komersial di Filipina, 1996; 5). Studi Banding (comparative study) Sistem Penyiaran Swedia dan Inggris, atas undangan pemerintah kedua negara, musim semi tahun 2000.

Kariernya di dunia radio siaran, bermula dari masa pergerakan mahasiswa 1966, dengan mendirikan radio bawah tanah (amatir). Dilanjutkan dengan mendirikan Radio Siaran Komersial ARH, pada tahun 1968. Menjadi Project Officer Radio Pendidikan Pemuda LP3ES, 1973-1975. Pada tahun 1993, membangun Jaringan Radio – Anggit Radio Nusantara – dengan 40 stasiun afiliasi, yang tersebar dari Sumatera Utara hingga Jawa Timur. Pada periode 1974 sampai dengan 2005, ikut membidani kelahiran sejumlah organisasi/LSM, yang bergerak dibidang penyiaran, seperti Persatuan Radio Siaran Swasta NasionaI Indonesia/PRSSNI, Masyarakat Pers dan Penyiaran Indonesia/MPPI, Jaringan Radio Pemantau pemilu/JRPP, Jaringan Radio Komunitas Indonesia/JRKI, Lembaga Studi Komunikasi Untuk Demokrasi/ LESKUD dan Masyarakat Komunikasi Indonesia/MKI Surabaya.

Terpilih sebagai anggota Dewan Pers, periode 2000-2003. Terhitung dari tahun 1976 hingga sekarang, menjadi trainer dan konsultan untuk programme development dan jurnalistik, seperti Siaran Pedesaan RRI se Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, PRSSNI, Internews, UNESCO, JRKI, JRPP dan C For VISI/EU. Antara tahun 1997-2002, menjadi drafter Undang-undang Penyiaran PRSSNI/MPPI, yang kemudian diambil-alih menjadi materi utama usul inisitaif DPR, bagi penyusunan Undang-undang No 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran.

Editor "Buku Panduan Siaran Pertanian RRI", Deppen, 1976. Kontributor buku-buku bertajuk: "Membangun Sistem Penyiaran yang Demokratis di Indonesia"- IMLPC, 2003, serta "Radio dan Pemilu 2004", CETRO-JRPP-FNS, 2004.

Kamis, 30 Agustus 2007, Zainal Abidin Suryokusumo menghadap Sang Maha Kuasa, setelah berjuang berbulan-bulan melawan penyakit yang cukup parah, dengan semangat hidup yang tak kenal menyerah. Meninggalkan seorang isteri (Irajati Moedahar, SH) dan tiga orang putri: Saraswati (Atty); Medina Indreswari (Inre); dan Tribuana Tungga Dewi (Tantri); serta tiga orang cucu: Mochammad Ramadhan Salehoddin, Zahra Ardani, Makkiya Suryokusumo Yusuf.

Mas Zen Sang Guru Pembebasan

Keterangan Gambar (Dari Kiri ke Kanan): Arthur J. Horoni,
Fahmi Idris, Zainal A. Suryokusumo dalam acara Latihan
Dasar Kepemimpinan Bengkel Belia ARH, Bogor, 1981.

Oleh: Arthur J. Horoni

Belajar sama-sama.
Belajar sama-sama.
Kerja sama-sama.

Semua orang itu guru.
Alam raya sekolahku.
Sejahteralah bangsaku.

Lirik lagu berjudul: “Sama-sama” yang sering disenandungkan anak-anak jalanan itu, afdol betul untuk melukiskan suasana “pembelajaran” di Radio ARH anno-1973-1983, saat saya menjadi salah-seorang pekerja di gelombang “tempat anak muda” nangkring itu. Di tempat ini, Mas Zen, Zainal Abidin Suryokusumo, adalah guru, dan Radio ARH merupakan “akademi rakyat” yang berpikir merdeka, walau gedungnya sumpek.

Di sini, para mantan Laskar Ampera Arief Rachman Hakim (ARH), mahasiswa DO, anak-anak gang putus sekolah, wartawan subversif yang korannya diberangus Soeharto, seniman tanggung, kawula muda daerah korban urbanisasi, preman picisan Pasar Cikini, Godila, Kalpas, Bonsir, Tanjung Priok, Kampung Melayu, Menteng Wadas dan Bambu Apus, bisa kompak gegap-gempita. Perekatnya adalah Mas Zen, guru kaum DO, pemuda putus sekolah yang menghuni gang-gang kumuh Jakarta saat itu, yang selalu disapanya dengan empati: Hallooouuu, melalui rubrik “Kontak Pendengar” Titik-Temu Radio ARH, dengan nama on air: Bung Daktur. Suara baritonnya yang khas, menghangati, mengakrabi. Ia bicara antara subyek dengan subyek. Berbicara dengan pribadi dalam kedudukan yang setara. Bukan berbicara kepada obyek

Siaran Pendidikan Pemuda (SPP) Titik-Temu Radio ARH, melahirkan komunitas orang muda yang, pertama-tama, memiliki sikap (attitude) swadaya, mandiri. Mereka tergabung dalam Kelompok Pendengar SPP dan Bengkel Belia ARH. Kegiatan-kegiatan berupa diskusi, teater, perkemahan libur sekolah, dan tentu saja, paket-paket siaran pendidikan, merangsang minat kaum muda untuk menggarap diri, berkreasi melahirkan daya cipta.

Alhasil, anak putus sekolah (tak sedikit juga anak sekolah dan mahasiswa dari berbagai institusi tersohor ikut bergabung) bisa menjadi pede di sekolah alam raya ARH. Di sini, Mas Zen (Bung Daktur) memfasilitasi orang-orang muda ini untuk menggulirkan kegiatan-kegiatan yang selainkan mengembangkan sikap (attitude) berdikari, juga berlatih mengembangkan berbagai ketrampilan (skill): menulis, siaran, berteater, berwiraswasta, dan lain sebagainya. Seri diskusi, pelatihan, konsultasi, juga mampu menambah pengetahuan (knowledge) anak-anak gang itu.

Suasana ini membuat jarak antara pekerja dengan pendengar menjadi cair. Semuanya lebur dalam dalam komunitas belajar bersama dan kerja sama-sama itu. Komunitas ini adalah Indonesia kecil yang pluralis. Mas Zen memberikan kontribusi luar biasa atas tumbuhnya kesadaran kritis kaum muda dalam komunitas ARH itu.

Guru Pembebasan.

Bagi saya, Zainal Abidin Suryokusumo (ZAS), atau panggilan akrabnya Mas Zen, dan sapaan di radio ARH: Bung Daktur, adalah seorang pendidik, guru. Namun tidak seperti kebanyakan guru yang cuma memindahkan (mentransfer) pengetahuan kepada muridnya, Mas Zen adalah guru yang membebaskan muridnya berkreasi. Maka radio ARH pada masa Siaran Pendidikan Pemuda masih berjaya, adalah sebuah OASIS di tengah-tengah represi rezim Orde Baru. Sobat-sobat (panggilan akrab antar-kami) sering mengutip ucapan proklamator Bung Hatta: Republik Berpikir Bebas, untuk mencitrakan suasana pergaulan dan perdebatan di Radio ARH, di pojok TIM itu. Itu karena sobat ZAS berusaha menjadi demokrat sejati.

Sosok Radio ARH waktu itu boleh jadi dianggap sebagian kelas menengah sebagai lambang perlawanan. Ia adalah bagian dari sejarah Angkatan ’66 yang meruntuhkan Soekarno, sang proklamator yang pada penghujung pengabdiannya menjadi diktator. Namun juga kemudian bersikap kritis terhadap Soeharto, yang pada ujung kekuasaannya menyuburkan otoritarianisme dan KKN. Sebelum (pada akhirnya) masuk ke dalam keluarga besar GOLKAR, Laskar Ampera Arief Rachman Hakim dianggap sebagai barisan Orde Baru irasional karena sikap kritisnya.

Radio ARH kesohor pada masa itu (akhir 70-an sampai 80-an) dengan SIARAN PENDIDIKAN PEMUDA “TITIK TEMU”. Dan, Bung Daktur yang menakhodainya, menjadi citra orang pintar yang bijak dan peduli pada kaum muda yang termarjinalisasi. Orang muda yang tersingkirkan itu terlempar di dalam gang-gang kumuh metro Jakarta: para pemuda putus sekolah atau DO, yang gampang bergolak karena ditimpa kegamangan nilai-nilai. Banyak dari mereka datang dari desa, para imigran yang kesasar di belantara ibukota. Mereka tersisih dari sekolah-sekolah favorit, fans radio kelas menengah, ormas pemuda atau klub anak muda kota yang mentereng.

Siaran Pendidikan Pemuda Radio ARH menyapa para sobat tersisih ini dengan motto: “Hari Ini dan Esok Kita Punya”. Sebuah upaya untuk mengorganisir motif-motif dalam diri untuk percaya diri, kita bisa bangkit. Ini merupakan upaya pembebasan manusia dari tingkat kesadaran magis yang percaya bahwa sudah takdir ia menderita.

Keyakinan atau kepercayaan magis ini menghina Tuhan. Mungkinkah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang itu menakdirkan manusia ciptaanNya yang paling sempurna, untuk bernasib buruk? Mas Zen “mencambuk” anak-anak muda yang bergabung di Ikatan Pendengar SPP maupun Bengkel Belia ARH, untuk bangkit, percaya kepada kemampuan dirinya, menggali bakat-bakatnya untuk berkreasi melalui bidang apapun yang dikehendaki. Karena itu lahir motto: “Menggalang Minat, Merangsang Cipta, Menggarap Diri”.

Mas Zen, didukung para pengasuh Siaran Pendidikan Pemuda Radio ARH, bekerja dalam apa yang disebut sebagai “pendidikan pembebasan”. Tentu saja ini diilhami ahli pendidikan orang dewasa, Paulo Freire dari Brazil. Bukunya, Pendidikan Kaum Tertindas, yang diterbitkan LP3ES tahun 70-an, menjadi bacaan wajib para redaktur dan presenter SPP waktu itu. Di sinilah Mas Zen, Bung Daktur, menjadi tokoh kunci.

Komunikator.

Bung Daktur, juga bukan cuma guru “jago kandang”. Ia juga layak disebut sebagai guru untuk radio siaran swasta nasional secara keseluruhan. Sebagai Sekretaris Jenderal Pertama PRSSNI (Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia), ia terlibat dalam pekerjaan Dewan Pers dan Komisi Penyiaran Indonesia. Ia sungguh seorang komunikator yang mengabdi bagi kepentingan orang banyak.

Saya bahagia bertemu dan bekerja bersama Mas Zen, sahabat, guru yang membebaskan seperti dia. Juga karena mengenal Uni Ira dan seluruh keluarga yang selalu hangat, akrab dan mengayomi. Saya percaya Mas Zen kembali kepada Sang Pencipta dengan lapang, sementara keluarga yang ditinggalkan tabah dan tegar. Mas Zen telah banyak menyumbangkan gagasan, berucap dan bertindak untuk kemashlahatan banyak orang, melalui media yang digelutinya: dunia radio siaran.

Medan, 23 September 2007.

[Arthur J. Horoni. Laki-laki kelahiran Sangihe Talaud, 10 Februari 1947, adalah Direktur Program Radio ARH periode 1973-1983, dan sebelumnya bekerja di Radio Merdeka Surabaya (1970-1973); Kemudian selepas dari Radio ARH, ia bekerja sebagai Redaktur Majalah Fokus (1983-1084); Redaktur Majalah Oikumene (1984-1992); Koordinator Program Center for Indonesian Migran Worker, Jakarta (1998-2002): Manajer Program Yakoma PGI (1992-2005); Wakil Direktur Yakoma PGI (2004-2005); Direktur Yakoma PGI (2006). Dan, ketika membuat tulisan ini, Arthur John Horoni adalah Program Coordinator Center For Popular Education, Medan, sejak 2006.]