<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1417497512382010708</id><updated>2011-09-09T22:11:36.143+07:00</updated><category term='Ihwal'/><category term='In Memoriam'/><category term='Wacana'/><category term='Refleksi'/><title type='text'>Bung Daktur ARH</title><subtitle type='html'>Didedikasikan untuk Zainal Abidin "Bung Daktur"  Suryokusumo (1939-2007) tokoh pejuang penyiaran yang terlupakan</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://bungdaktur-arh.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1417497512382010708/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungdaktur-arh.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Billy Soemawisastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13333083922610946230</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_xs69eKlboEg/SKw-Y3SIYyI/AAAAAAAAAK4/fb6e7KbWWDI/S220/bang+billy+3.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>13</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1417497512382010708.post-6029736177323646410</id><published>2008-09-05T01:25:00.010+07:00</published><updated>2008-09-19T15:22:38.182+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='In Memoriam'/><title type='text'>ZAS, dalam Kenangan Brodkaster Jogja</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_xs69eKlboEg/SMAv1zPOeFI/AAAAAAAAALw/6JWPCqJzZms/s1600-h/dharmalubis1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 230px; height: 172px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_xs69eKlboEg/SMAv1zPOeFI/AAAAAAAAALw/6JWPCqJzZms/s320/dharmalubis1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5242242567592900690" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Dharma Lubis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;Satu ketika, saya lupa kapan persisnya, saya dan seorang teman ngobrol via YM (Yahoo Messenger). Tiba-tiba teman yang bernama Mart itu bilang, “Saya jadi teringat Kak Zaenal, kamu masih ingat kan?” Saya pun menjawab, pasti saya ingat. Teman saya itu pun meminta saya untuk berkunjung ke blog Bung Daktur ARH, sebuah blog yang didedikasikan untuk mengenang beliau. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Ingatan saya pun melesat pada waktu saya ditawari turut serta dalam proyek mendirikan radio Punakwan Jogja dalam rangka pemulihan kembali secara psikologis masyarakat Jogja pasca gempa Mei. Sebelum proyek ini berlangsung, kami para sukarelawan yang diambil dari berbagai radio komunitas di Jogja, diberi bekal dalam bentuk pelatihan. Kebetulan materinya tentang peyiaran dan jurnalistik radio, yang rencana kerjanya dalam jangka waktu beberapa bulan saja. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Salah satu pengisi materi pelatihan itu adalah seorang yang sangat senior di dunia radio nasional. Seorang yang saat pertama kali melihatnya, muncul rasa segan. Bang ZAS, begitu beliau biasa disapa. Dengan baju kaos dan celana pendek nan santai membuat usianya yang terbilang sudah sepuh menjadi jauh lebih muda. Semangat hidupnya membuat rambut putihnya tak bermakna apa-apa. Satu yang paling saya ingat betul selain kumis tebal yang putih, adalah suara berat dan sedikit serak khas penyiar radio zaman dulu, dan mungkin keistimewaan suara seperti beliau yang jarang ditemukan sekarang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Kalau ditanya seberapa saya mengenal beliau, jujur saja saya tidak terlalu mengenal dekat pribadinya. Wajar saja karena saya baru pertama kali bertemu dengan beliau saat itu, dan menjadi pertemuan yang terakhir. Hanya saja saya pernah diceritakan tentang pribadinya oleh teman saya itu. Kalau saya tidak salah, teman saya bilang, Bang ZAS itu selalu membawa setrika kalau berpergian. Sebuah kebiasaan yang unik menurut saya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Kesan langsung yang saya terima tentang seorang Bang ZAS, beliau adalah sosok yang keras kemauan. Seorang yang tegas dan teguh pendirian. Ramah pada setiap orang yang dijumpainya. Juga memiliki selera humor yang boleh juga. Seorang jurnalis radio sejati dan tangguh. Seorang motivator dan pemberi semangat. Sosok senior yang tidak pelit berbagi ilmu dan pengalamannya bagi yang muda. Inilah yang harusnya dicontoh oleh broadcaster dan jurnalis muda saat ini. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Walau saya tidak lama terlibat dalam proyek tersebut, namun sempat mendapat sedikit ilmu dan pengalaman yang dibagikan beliau tentang penyiaran. Bagaimana membawakan sebuah talkshow di radio, menjadi presenter dan jurnalis radio yang baik. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Teman saya juga bercerita bahwa dia merasa sedikit menyesal, karena sebelum beliau menutup mata dan meninggalkan kita semua, beliau sempat menyatakan keinginannya untuk makan gudeg Jogja. Namun teman saya belum sempat mengabulkan keinginan beliau, di saat-saat terakhirnya tersebut.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1417497512382010708-6029736177323646410?l=bungdaktur-arh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1417497512382010708/posts/default/6029736177323646410'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1417497512382010708/posts/default/6029736177323646410'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungdaktur-arh.blogspot.com/2008/09/bung-zas-di-mata-seorang-brodkaster.html' title='ZAS, dalam Kenangan Brodkaster Jogja'/><author><name>Billy Soemawisastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13333083922610946230</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_xs69eKlboEg/SKw-Y3SIYyI/AAAAAAAAAK4/fb6e7KbWWDI/S220/bang+billy+3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_xs69eKlboEg/SMAv1zPOeFI/AAAAAAAAALw/6JWPCqJzZms/s72-c/dharmalubis1.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1417497512382010708.post-1475193002578576651</id><published>2008-05-06T00:53:00.013+07:00</published><updated>2008-09-21T01:45:20.681+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Memperingati 1 Mei: Mengenang Chun Tae-il</title><content type='html'>&lt;div  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh: Arthur John Horoni&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah gerangan Chun Tae-il? Waktu itu, 13 November 1970, ia cuma seorang lelaki muda, buruh yang dibayar amat rendah, tukang potong pakaian&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;di pabrik garmen di Pasar Damai, Seoul, Korea Selatan. Namun hari itu, buruh muda 22 tahun itu menorehkan tragedi yang mengguncang tidak saja Semenanjung Korea, namun dunia: ia membakar dirinya sampai mati, agar nasib buruh Korea berubah menjadi lebih manusiawi. Orang menyebut peristiwa itu sebagai sebuah bentuk deklarasi hak-hak manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_xs69eKlboEg/SB9K330IhLI/AAAAAAAAAJ4/rGcabR0K0Ck/s1600-h/Cun+Tae+III.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5196954818744714418" style="margin: 0px auto 10px; display: block; cursor: pointer; text-align: center;" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_xs69eKlboEg/SB9K330IhLI/AAAAAAAAAJ4/rGcabR0K0Ck/s400/Cun+Tae+III.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Cho Young-rae, penulis biografi Chun Tae-il mencatat: buruh melarat itu meninggal untuk menyingkapkan penderitaan para buruh pabrik yang miskin, sakit, kurang pendidikan, yang bekerja 16 jam sehari di lorong kecil berdebu. Mereka diperas tanpa rasa malu oleh para pengusaha. Tae-il menyatakan, manusia itu sama harganya, apakah ia buruh melarat ataupun majikan yang kaya-raya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;“Di zaman komodifikasi ini,” seru Tae-il, “zaman yang mengerikan, tatkala seseorang bisa merampas segalanya dari orang lain, aku tidak akan berkompromi dengan ketidakadilan seperti apapun, ataupun tinggal diam. Aku mau berjuang maksimal demi keadilan.” Dia berjuang dan mati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Kaum buruh Indonesia yang selama 10 tahun reformasi ini juga berjuang bagi kehidupan yang lebih baik: ”Buruh berjuang! Delapan jam kerja sehari, 40 jam seminggu, buruh hidup berkecukupan.”&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;Namun jauh panggang dari api. Upah buruh Indonesia masih rendah, jam kerja panjang, jaminan keselamatan kerja buruk, lembur paksa, &lt;i&gt;out sourcing&lt;/i&gt;, pemberangusan serikat buruh dan ancaman PHK alias pemutusan hubungan kerja, membayang-bayangi mereka. Bahkan banyak aturan pemerintah termasuk undang-undang yang seharusnya memayungi buruh, diprotes oleh gelombang demonstrasi buruh karena justeru tidak pro buruh.&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Kenapa nasib buruh seolah tak putus dirundung malang? Ibarat ujar-ujar pepatah-petitih nenek moyang: sudah jatuh ditimpa tangga lantas digigit anjing gila? Apakah petinggi negara ini lebih berpihak kepada para saudagar ketimbang ralyatnya? Apakah kaum kapitalis birokrat bukan cuma kelas yang hadir di &lt;i&gt;jadul (jaman dulu)&lt;/i&gt; orde lama, namun muncul dalam bentuk yang lebih canggih hari ini? Boleh jadi. Namun kaum buruh juga perlu melakukan otokritik: apakah organisasi buruh yang ada cukup kokoh dan tahan uji?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Rasanya belum terlambat untuk belajar dari riwayat Chun Tae-il, pahlawan buruh Korea.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Federasi Serikat Buruh Indonesia (FSBI), pada 3 Mei 2008 akan meluncurkan buku yang mengharukan dari tokoh &lt;i&gt;minjung &lt;/i&gt;(rakyat jelata) Korea ini. Acara, Dialog Publik dalam Rangka May Day 2008: Gerakan Buruh Indonesia Pasca 10 Tahun Reformasi dan Peluncuran Buku Biografi Chun Tae-il – Pahlawan Buruh Korea, akan berlangsung di Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Cakung Jakarta. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Catatan rinci Cho Young –rae ikhwal kisah hidup Chun Tae-il, perjuangan dan kematiannya dalam biografi ini, membangkitkan kembali hidupnya sebagai cahaya pemandu bagi gerakan buruh. Suara Chun Tae-il membangunkan kesadaran masyarakat yang terlelap dan acuh tak acuh terhadap penderitaan buruh. “Jangan biarkan kematianku sia-sia,” teriaknya saat api menjilat tubuhnya..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Presiden Chun Tae-il Trust, Moon Ik-whan menulis, “cerita sang buruh muda Chun Tae-il telah mencucurkan airmata 60 juta rakyat Korea. Airmata itu membentuk sebuah anak sungai yang mengalir sepanjang sejarah kita, sebuah sungai yang menghanyutkan dinding kematian.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Saya ingin mengutip butir-butir filsafat perjuangan Chun Tae-il, uraian yang tidak ditulis oleh sarjana di “akademi menara gading”, tetapi oleh pemuda yang tidak tamat sekolah menengah, yang tinggal di gubuk di kawasan pemukiman liar di pinggiran kota Seoul. Melalui butir-butir permenungannya kita mendengar suara manusia yang hidup, berjuang penuh semangat walau sangat menderita.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Kita adalah kaum yang tersingkir. Karena itu harus sadar, bangun dari kebisuan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul  style="margin-top: 0in;font-family:georgia;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Kita harus menjadi manusia merdeka yang merasakan sendiri, berpikir sendiri dan melihat dunia dengan mata sendiri, berdasarkan pengalaman sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Kita adalah &lt;i&gt;minjung,&lt;/i&gt; rakyat jelata yang harus mengubah rasa rendah diri menjadi percaya diri. Rasa malu menjadi kebanggaan, ketakutan dan pengecut menjadi kemarahan dan keberanian, kebisuan dan pasrah diri menjadi kritis dan setia berjuang. Inilah filsafat yang mengubah budak untuk lahir kembali sebagai manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Perubahan total dalam nilai-nilai kaum tertindas merupakan momentum yang memiliki arti yang dalam terutama ketika ia memilih jalan perlawanan dan perjuangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;kita harus bertindak secara revolusioner, menjungkirbalikkan nilai-nilai mapan yang menindas dan berorientasi pada aksi. Berjuang menciptakan tatanan sosial yang saling menghormati sesama manusia. Sebuah masyarakat di mana tidak ada orang yang disingkirkan separti remah-remah yang terbuang, sebuah masyarakat di mana semua&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;orang menjadi satu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Kelemahan manusia adalah kurangnya harapan. Hakekat hidup adalah perjuangan, membuat hari esok lebih baik dari hari ini. Kebenaran adalah suara yang muncul dari hati nurani.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Perjuangan kita adalah demi mereka yang diinjak-injak, dilecehkan dan dihina. Semua akan melihat kemarahan yang tak terbendung kepada kelas mapan dan cinta kasih yang membara kepada saudara-saudara yang menderita, dari seorang yang lemah, yang bisa menghancurkan setiap benteng perbudakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Pengorbanan Chun Tae-il tidak sia-sia. Karena ia percaya, hanya perjuangan &lt;i&gt;minjung&lt;/i&gt;-rakyat yang kompak bersatu dapat membawa kehidupan yang manusiawi. Hanya perjuangan kaum &lt;i&gt;minjung&lt;/i&gt; yang dapat mengubah masyarakat. Karena itu, &lt;i&gt;minjung-&lt;/i&gt;rakyat harus menjadi tokoh sentral dalam perjuangan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Hari ini, memperingati 1 Mei, kita mengenang Chun Tae-il, yang di Korea diakui sebagai bapak serikat buruh demokratis. Kini gerakan buruh yang paling kuat di Asia adalah Konfederasi Serikat Buruh Korea (KCTU) yang sudah memiliki wakil di parlemen Korea Selatan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Buruh Indonesia tak perlu malu belajar dari Chun Tae-il.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Medan, 1 Mei 2008&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:100%;"  &gt;[&lt;em&gt;Tulisan ini juga dapat dilihat pada &lt;/em&gt;&lt;a href="http://jagatalit.wordpress.com/"&gt;&lt;em&gt;Blog Jagat Alit&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1417497512382010708-1475193002578576651?l=bungdaktur-arh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungdaktur-arh.blogspot.com/feeds/1475193002578576651/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1417497512382010708&amp;postID=1475193002578576651' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1417497512382010708/posts/default/1475193002578576651'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1417497512382010708/posts/default/1475193002578576651'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungdaktur-arh.blogspot.com/2008/05/memperingati-1-mei-mengenang-chun-tae.html' title='Memperingati 1 Mei: Mengenang Chun Tae-il'/><author><name>Billy Soemawisastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13333083922610946230</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_xs69eKlboEg/SKw-Y3SIYyI/AAAAAAAAAK4/fb6e7KbWWDI/S220/bang+billy+3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_xs69eKlboEg/SB9K330IhLI/AAAAAAAAAJ4/rGcabR0K0Ck/s72-c/Cun+Tae+III.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1417497512382010708.post-7247023305845730368</id><published>2008-04-26T12:35:00.006+07:00</published><updated>2008-09-20T02:53:53.888+07:00</updated><title type='text'>Dari Penyadaran ke Refleksi</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Oleh: Arthur John Horoni&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;    Jalan untuk Memperkuat Rakyat&lt;br /&gt;  Sebuah goresan pengalaman.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;    Urban Rural Mission (URM) menjunjung tinggi rakyat sebagai&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;tokoh dari perubahan dan sejarah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;(Rev. Dr.A. George Ninan, Bishop Nasik, India)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Pada mulanya arti kata “rakyat” bagi saya tak berbeda dengan pemahaman umum, yakni kumpulan orang-orang (individu). Ia sama saja artinya dengan kata “masyarakat”. Tahun 1972, di Surabaya tatkala bersama sekelompok kaum muda saya diringkus serdadu karena berdemo soal beras mahal, maka arti kata “rakyat” mulai sedikit khas: orang-orang yang kelaparan, bukan pejabat, serdadu dan tentu saja bukan pengusaha. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Selama bekerja sebagai “penyiar” di radio ARH Jakarta, lagu-lagu rakyat – saat itu, era 70 – 80 an, berarti nyanyian protes menjadi kesukaan saya. Konser rakyat Leo Kristi, Gombloh, Franky Sahilatua, Remy Sylado Company dan The Gang of Harry Rusli menjadi kegemaran lantaran syair-syair mereka mengemukakan sindiran, ironi atau paradoks tentang Indonesia. Dalam salah satu lagunya, dengan mengharukan Leo Imam Sukarno Kristi menyenandungkan nasib rakyat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;    Hari itu di empat lima&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kami bernyanyi BAGIMU&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;NEGERI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;.........&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Hari ini di kaki lima&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kami bernyanyi BAGIMU NEGERI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Pada periode ini, saya – sebenarnya agak malu mengakui ini – seperti seorang romantikus bulan purnama, bersimpati kepada nasib rakyat yang menderita... (He, he,he... sepertinya saya tak menderita ya ?).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Adalah Majalah Berita Mingguan FOKUS tempat saya bekerja sebagai redaktur, pada 1984 menurunkan laporan sampul 200 Orang Kaya Indonesia. Laporan ini sebenarnya hanya semacam paparan sederhana siapa saja yang menjadi kaya raya sejak Soeharto berkuasa tahun 1966. Ada di sana nama Liem Soei Liong, Bob Hasan, Prayogo Pangestu dan seterusnya. Eh, tahu-tahu majalah yang terbit sejak 1982 itu dibredel Harmoko, menteri penerangan saat itu. Alhasil, saya merasa menjadi bagian dari rakyat yang menderita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Namun rakyat sebagaimana dipahami gerakan URM (Urban Rural Mission), barulah mulai sungguh-sungguh saya pelajari tatkala bergaul dengan teman-teman yang bekerja di tengah-tengah rakyat, antara lain Indera Nababan. Sejak 1985, Indera Nababan mulai mengorganisir kembali jaringan gerakan URM Indonesia di tengah-tengah kesibukannya sebagai Kepala Biro Informasi PGI dan Koordinator Pelayanan Buruh Jakarta (PBJ), bagian dari Pelayanan Masyarakat Kota – Huria Kristen Batak Protestan (PMK – HKBP) Jakarta. Saya bergabung bekerja di Majalah Berita OIKOUMENE (sampai 1992) kemudian di YAKOMA&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;PGI (sejak 1992).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bagi gerakan URM, rakyat adalah orang-orang tertindas, terpinggirkan, tereksploitasi, termiskin. Mereka itu bisa orang miskin kota, petani yang tidak memiliki tanah, nelayan tradisional yang diterjang pukat harimau, buruh pabrik, buruh migran, kaum perempuan yang dinomorduakan. Mereka tersingkir karena alasan-alasan sejarah oleh kelompok masyarakat yang dominan. Nah, rakyat inilah menurut Rev. George Ninan, salah satu tokoh gerakan URM di Asia, yang semestinya menjadi tokoh dari perubahan dan sejarah. Pertanyaannya, bagaimana memampukan rakyat menjadi tokoh?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam pertemuan-pertemuan nasional URM Indonesia sejak 1985 hingga 2000 disepakati berbagai upaya penguatan rakyat, antara lain Pelatihan Community Workers, pelatihan rakyat, perkunjungan (Exposure Program), seminar rakyat dan dialog publik. Kendati begitu, fokus kegiatan lebih menajam kepada pendidikan rakyat. Sejak dini Indera Nababan berulang-ulang menekankan, perubahan di Indonesia tidak mungkin terjadi bila tanpa keikutsertaan rakyat. Karena itu rakyat harus ”dibangunkan”, ”terjaga”, dari situasi pingsan karena penindasan yang dialaminya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Di dunia ini, menurut Paulo Freire, terdapat dua jenis manusia. Jenis pertama, yakni, bagian terbesar, menderita karena ketidakadilan, sedang jenis yang kedua, yakni sebagian kecil, menikmati jerih payah orang lain secara tidak adil. Itulah situasi penindasan, situasi yang tidak manusiawi (dehumanisasi). URM Indonesia begitu yakin situasi penindasan terhadap rakyat Indonesia bukanlah takdir yang mesti diterima secara pasrah, namun suatu realitas yang bisa diubah. Rakyat memiliki naluri, kesadaran, kepribadian dan ungkapan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;diri. Ia mampu memahami keberadaan dirinya dan dunianya, dengan bekal pikiran dan tindakan ia mampu mengubah realitas dunianya. Untuk itu diperlukan pendidikan rakyat, yang merupakan proses berkeseimbangan dari penyadaran, dilanjutkan dengan pendidikan, pengorganisasian, aksi, sampai kepada refleksi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Penyadaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dari pengalaman pendidikan rakyat yang diselenggarakan URM Indonesia, ada dua bentuk ”permainan penyadaran” yang bisa membantu menjelaskan makna penyadaran: &lt;b&gt;permainan&lt;/b&gt; ”orang buta dituntun orang melek”, dan permainan mencipta ”patung orang yang dibenci dan orang-orang yang disayangi”. &lt;b&gt;Permainan pertama bermakna&lt;/b&gt;, proses penyadaran adalah memampukan orang dari situasi tidak melihat (buta) menjadi mampu melihat (celik). Bila kita buta, kita akan sangat tergantung kepada yang menuntun (tidak buta). Dia memperlakukan kita sesuka-sukanya. Orang yang sadar adalah orang yang berjuang mengubah situasi dari buta menjadi tidak buta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Permainan kedua, &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;mengajak rakyat memahami realitas, ada orang-orang yang kita ”sayangi”, boleh jadi karena keprihatinan kita terhadap nasibnya (yang buta sejarah, buta hukum, dan seterusnya), yang sebenarnya disebabkan oleh tindakan dari orang-orang yang kita ”benci”.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; Permainan ini mengajak rakyat menyadari, kesengsaraan mereka bukanlah takdir, namun disebabkan oleh tindakan dari orang-orang yang kita ”benci”. Permainan ini mengajak rakyat menyadari, kesengsaraan mereka bukanlah takdir, namun disebabkan oleh kesewenang-wenangan segelintir orang, yang mendapatkan peluang dari sebuah sistem atau struktur yang menindas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Melalui dua permainan yang sejujurnya diinspirasi oleh permainan anak-anak, rakyat menyadari bahwa manusia terbagi dalam dua kelas: kelas penindas dan tertindas. Ia menjadi sadar, kebutaannya bukanlah nasib buruk, namun buah dari kesewenang-wenangan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kaum ”berpenglihatan” yang suka menindas. Alhasil, langkah pertama dalam upaya memperkuat rakyat adalah penyadaran akan situasi penindasan sebagai realitas. Apakah ia menerima saja realitas itu sebagai takdir, atau mau mengubahnya. Andai ia mau mengubahnya, maka perjalanan atau pengembaraan dapat dilanjutkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pendidikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pendidikan popular atau pendidikan rakyat jelas berbeda dengan pendidikan di sekolah (formal). Pendidikan sekolah membelenggu murid, menempatkan murid sebagai objek dalam sistem pendidikan yang menyebabkan manusia menjadi komoditi bagi keperluan&lt;b&gt; pembangunanisme. &lt;/b&gt;Sebaliknya pendidikan popular menempatkan rakyat menjadi subyek yang membebaskan dirinya dari belenggu ketertindasan. Paulo Freire, tokoh pendidikan rakyat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;asal Brasil menyebutnya sebagai pendidikan hadap masalah: rakyat diajak menggali pengalamannya. Belajar dari pengalaman itu rakyat menyadari situasi penindasan yang menyengsarakan, menggerakkan mereka untuk berjuang mengubah realitas (kenyataan) sesuai harapan dan cita-cita rakyat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pendidikan rakyat mengenal tiga tahap pengembangan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pengembangan sikap (&lt;i&gt;attitude&lt;/i&gt;): rakyat diajak menggali dan menghargai pengalamannya, rakyat memahami realitas, dan pemahaman ini pada dirinya membangkitkan kreasi untuk mengubah realitas&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sesuai dengan harapannya. Pengalaman adalah sejarah rakyat. Ia tidak bisa dinafikan atau dihujat kendati penuh kepahitan. Ia perlu dipahami, dihargai kemudian diubah menjadi kenyataan baru. Rakyat hanya akan mampu mengubah kenyataan itu bila sikapnya juga berubah: dari tertutup menjadi terbuka, dari buta menjadi celik. Bila ia mampu menghadirkan dirinya atau mengaktualisasikan dirinya secara baru. Ia pada ujungnya menjadi percaya diri. Topik Aktualisasi Diri dan Spiritualitas memampukan rakyat mengekspresikan dirinya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pengembangan keterampilan (&lt;i&gt;skill&lt;/i&gt;): rakyat dimampukan untuk terampil pertama-tama menganalisis ketertindasan yang dialaminya (analisis sosial). Kenapa situasi seperti ini terjadi? Apa sebab? Siapa penyebab? Kenapa rakyat selalu kalah? Apa sebenarnya akar permasalahan yang mengharu biru rakyat? Keterampilan kedua adalah tindak lanjut atas jawaban terhadap segudang pertanyaan analisis tadi. Yakni kalau rakyat sudah paham akan situasi, apakah dia mau berjuang untuk mengubah situasi itu agar menjadi realitas yang berbeda? Untuk itu ia memerlukan alat perjuangan, yaitu organisasi rakyat, organisasi dari, oleh dan untuk rakyat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pengembangan pengetahuan (&lt;i&gt;knowledge&lt;/i&gt;), rakyat dimampukan mengembangkan pengetahuan sehubungan dengan upaya-upaya memperkuat dirinya. Topik bervariasi, dari politik, ekonomi, gender, budaya, sosial, komunikasi, demokrasi, HAM, lingkungan hidup, dan seterusnya. Tentu saja ini harus sesuai dengan kebutuhan dan disepakati rakyat. Ia tidak ditentukan oleh segelintir orang yang mengaku pintar. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Organisasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Langkah penyadaran dan pendidikan menggulirkan rakyat pada kebutuhan menggalang kekuatannya dalam upaya mengubah realitas atau ”dunia”. Dan &lt;b&gt;kekuatan rakyat adalah organisasi&lt;/b&gt;. Inilah &lt;b&gt;langkah ketiga&lt;/b&gt; &lt;i&gt;penguatan rakyat&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Organisasi rakyat bukanlah &lt;i&gt;organisasi yang dibentuk&lt;/i&gt; dengan mengacu kepada bentuk-bentuk mapan. Sekali lagi perlu disimak, ia lahir berdasarkan kebutuhan untuk menjawab permasalahan yang konkret. Organisasi rakyat berorientasi kepada masalah (isu) yang dihadapi rakyat. Karena itu ia harus (&lt;b&gt;1) sederhana, (2) partisipatif dan (3)&lt;/b&gt; &lt;b&gt;terawasi (terkontrol).&lt;/b&gt; Organisasi rakyat akan berkembang menjadi kekuatan besar tatkala berbagai organisasi dengan isu yang sama bergabung (koalisi, aliansi) menjadi gerakan yang dahsyat. Jadi organisasi adalah &lt;i&gt;kekuatan rakyat&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;yang memampukan kaum tertindas mengubah kenyataan (realitas) penindasan, menjadi dunia baru yang sesuai dengan harapan atau cita-cita rakyat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Fungsi organisasi rakyat adalah untuk (1) memperjuangkan hak-hak rakyat, (2) melindungi kepentingan rakyat, dan (3) menggulirkan perubahan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bagi terwujudnya cita-cita rakyat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Aksi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Hanya bila rakyat mampu menggalang kekuatan melalui organisasi rakyat yang berdaulat, ia bisa maju lagi dalam perjalanannya. Kali ini ia mengubah kehendak menjadi tindakan bagi mewujudkan harapan atau cita-citanya. Itulah langkah keempat, yakni aksi. Ini adalah muara dari perjalanan panjang sejak penyadaran tadi. Perjalanan itu harus ditempuh secara sistematis. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dengan begitu rakyat tahu persis akan posisinya dan mampu memainkan perannya dengan baik dan benar. Banyak aksi rakyat gagal karena kegenitan aktivis yang tak mampu belajar bersama rakyat, lebih suka mendikte rakyat sesuai&lt;i&gt; &lt;/i&gt;kepentingan sendiri. Tanpa melalui proses yang sistematis, aksi-aksi rakyat hanya akan menyenangkan para aktivis, menyebabkan frustasi di kalangan rakyat (karena lebih banyak kalahnya ketimbang menangnya). Aksi seperti itu hanya melahirkan aktivisme. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Aksi rakyat lahir dari perjalanan penyadaran, pendidikan dan penggalangan kekuatan. Aksi itu harus menghasilkan kemenangan-kemenangan bagi rakyat. Ia bermula dari kemenangan kecil yang kemudian berakibat besar, yakni mengubah potensi (modal) rakyat dan menghargainya. Aksi rakyat yang sistematis juga memungkinkan tampilnya pemimpin-pemimpin baru dari rakyat sendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pemimpin-pemimpin yang lahir karena kebutuhan perjuangan, bukan karena dititipkan dari ”atas”. Karena itu organsisasi rakyat harus benar-benar berangkat dari masalah-masalah (isu) rakyat dalam menyusun agenda aksinya, sehingga memungkinkan berlangsungnya formasi kepemimpinan sesuai kebutuhan dan kesepakatan bersama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Refleksi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ada saat untuk bertindak (aksi), ada saat berdiam diri seraya bercermin. Itulah saat-saat refleksi. &lt;i&gt;Refleksi terjadi hanya apabila ada aksi. Refleksi tanpa aksi melahirkan demagog atau pembual, cuma jago bicara, debat, diskusi, namun tak mampu melakukan apa-apa untuk perubahan. &lt;/i&gt;Sebaliknya &lt;i&gt;aksi tanpa refleksi hanya menghadirkan para aktivis yang memang gegap gempita, namun sering jadi pecundang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tak dapat ditawar, usai melakukan perjalanan dari penyadaran, pendidikan, organisasi sampai kepada aksi, kita harus sejenak berhenti, melepas lelah, berdiam diri, merenung, bercermin dari semua proses perjalanan pengamatan tadi. &lt;i&gt;Apa yang sudah dicapai? Adakah yang tercecer? Apa yang positif dan negatifnya? Pelajaran apa yang kita peroleh dari sana? Apa yang perlu kita kerjakan selanjutnya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Langkah-langkah atau jalan penguatan rakyat secara sistematis, merupakan proses aksi – refleksi. Setia pada proses ini berarti memampukan rakyat mengembangkan dialog. Dan dialog yang dialektis, menurut Paulo Freire, senantiasa memunculkan kemungkinan-kemungkinan baru bagi perubahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Rakyat yang menjadi partisipan pelatihan-pelatihan URM Indonesia mempunyai kesan khas setelah mengikuti proses kegiatan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Berikut beberapa kutipan:&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;ul style="margin-top: 0in;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Latihan ini sangat bermanfaat karena dari tidak tahu      berorganisasi menjadi tahu, kemudian lebih paham pagi masalah hukum      perburuhan. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;      nilai tambah dalam pelatihan, disamping saya menjadi semakin berani juga      mengerti bahwa hak-hak manusia sangat besar nilainya. (&lt;b&gt;Latihan      Organisasi Buruh, Jetun Silangit, Siborong-borong, 19 – 22 Maret 2000&lt;/b&gt;).&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;    &lt;ul style="margin-top: 0in;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Pendidikan      ini perlu untuk para pemimpin organisasi. Rasanya mereka belum pernah      mempelajari dan merasa sombong menjadi pemimpin. Latihan ini juga perlu      bagi golongan atas. Setelah ikut latihan ada percaya diri dan ternyata      tingkat pendidikan bukanlah menjadi penentu dan pedoman utama. Selama ini      ada rapat di kampung, dan saya tidak bisa bicara seperti ini, namun      sekarang saya bisa mengungkapkan keinginan saya dan semakin berani.(&lt;b&gt;Lokakarya      Pengembangan Kepemimpinan Rakyat, Nelayan Pantai Timur Sumatera II, 1 – 5      Februari 2000&lt;/b&gt;).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;    &lt;ul style="margin-top: 0in;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Saya      termasuk anak nelayan yang sudah ikut pelatihan kemana-mana. Saya      menemukan bahwa sistem yang sangat terorganisir dan sistematis dilakukan      dalam lokakarya ini, Sangat terkesan dan ada spirit untuk menambah wawasan      yang tidak bisa diungkapkan saat ini. (&lt;b&gt;Lokakarya Pengembangan      Kepemimpinan Rakyat, Nelayan Pantai Timur Sumatera II, 1 – 5 Februari 2000&lt;/b&gt;).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;    &lt;ul style="margin-top: 0in;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Apa yang      saya dapat dari pelatihan ini akan dikembangkan di tempat lain. Saya juga      mendapat arti jati diri sehingga arti kehidupan di dapat di sini, terutama      dapat berkenalan dan bertekad untuk berjuang. &lt;/span&gt;(&lt;b&gt;Pendidikan      Organisasi Rakyat III, Tasikmalaya, 25 – 28 Mei 2000&lt;/b&gt;).&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;    &lt;ul style="margin-top: 0in;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Terkesan dengan metode pelatihan dan belum pernah      mengikuti pelatihan seperti yang diberikan. Materi yang diberikan berbobot      dengan penyajian yang sederhana dan mudah diikuti, santai namun memberi      arti. (&lt;b&gt;Latihan Organisasi Rakyat I di Garut, 6-8 Desember 1999&lt;/b&gt;).&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;    &lt;ul style="margin-top: 0in;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Pelatihan      ini mempunyai nilai tersendiri atau istimewa. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Melalui latihan ini bisa menjembatani      konflik, menerobos jarak diantara kita dan akhirnya menjalin komunikasi,      dan mendidik untuk bersama/bersatu. &lt;/span&gt;(&lt;b&gt;Pelatihan Pengorganisasian      Dasar Buruh, P.Siantar, 6-9 Juli 2000&lt;/b&gt;).&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;    &lt;ul style="margin-top: 0in;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Fenomena baru yang selama ini tidak ada, saya temukan      di pelatihan ini, Permainan orang buta dan peragaan dalam materi sangat      bekaitan dan memberikan penyadaran bagi kita. Saya menemukan rasa peduli      dan daya kritis yang semakin berkembang. Semoga dalam proses belajar,      mengerti, mendalami diikuti pula dengan pengaplikasian dalam kehidupan      sehari-hari. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Tekad kita&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam pelatihan ini agar dilaksanakan      dan dibuktikan setalah kita kembali ke tempat masing-masing. (&lt;b&gt;Pelatihan      Pengorganisasian Dasar Buruh, P.Siantar, 6 – 9 Juli 2000&lt;/b&gt;).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Terimakasih      atas pelatihan ini dan satu kemampuan yang tidak disadari adalah      mengaktualisasikan diri untuk mampu menjadi pelaku dari program/tujuan. (&lt;b&gt;Pelatihan      Pengorganisasian Petani di Bidang Pemasaran, P.Siantar, 1-4 Juli 2000&lt;/b&gt;).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;      &lt;ul style="margin-top: 0in;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Selama ini      saya melihat perempuan selalu tampil tidak percaya diri, mulai sekarang      saya akan menanamkan perempuan sama haknya dengan laki-laki dan mulai      melatih diri sejak dini. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;(&lt;b&gt;Lokakarya Kepekaan dan Kesetaraan Gender II di Tapanuli Utara, 12      – 15&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Maret 2001&lt;/b&gt;).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;    &lt;ul style="margin-top: 0in;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Tekad saya      untuk menerapkan demokrasi, transparansi di desa semakin kuat dan saya      memohon kekuatan dari Tuhan untuk menjalankannya. Permintaan saya, di samping      kepala desa perlu juga pelatihan untuk rakyat kecil seperti pedagang dan      petani karena merekalah teman saya di kampung untuk diajak kerjasama. (&lt;b&gt;Lokakarya      Pimpinan Desa II di Tapanuli Utara, Tarutung, 4-8 Februari 2001&lt;/b&gt;).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;    &lt;ul style="margin-top: 0in;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Ada      perintah dari kepala sekolah untuk mengikutinya. Kami awalnya mengelak,      untuk ada gender. Setelah mengikutinya kami jadi menyesal dan merasa puas.      Selama ini perempuan selalu merendahkan diri karena dikatakan      perempuan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hanya sebagai pendamping.      Kami menjadi percaya diri setelah mengikuti lokakarya. (&lt;b&gt;Lokakarya      Kepekaan dan Kesetaraan gender IV di tapanuli Utara, Tarutung, 14-17 Mei      2001&lt;/b&gt;).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;    &lt;ul style="margin-top: 0in;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Bangga      kepada fasilitator yang mau mengangkat derajat perempuan. Selama ini      perempuan direndahkan dan hanya sebagai bahan pelengkap dalam adat.      Setelah mengikuti lokakarya ini jadi mengerti apa itu kesetaraan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;gender. Jadi jangan hanya di sini saja      melaksanakan lokakarya ini. Akan lebih baik diadakan di desa yang masih      merendahkan perempuan. (&lt;b&gt;Lokakarya Kepekaan dan Kesetaraan Gender IV di      Tapanuli Utara, Tarutung, 14-7 Mei 2001&lt;/b&gt;).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Medan, 25 April 2008&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;[Tulisan ini juga dapat dilihat pada: &lt;a href="http://jagatalit.wordpress.com/"&gt;http://jagatalit.wordpress.com&lt;/a&gt;]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1417497512382010708-7247023305845730368?l=bungdaktur-arh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungdaktur-arh.blogspot.com/feeds/7247023305845730368/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1417497512382010708&amp;postID=7247023305845730368' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1417497512382010708/posts/default/7247023305845730368'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1417497512382010708/posts/default/7247023305845730368'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungdaktur-arh.blogspot.com/2008/04/dari-penyadaran-ke-refleksi.html' title='Dari Penyadaran ke Refleksi'/><author><name>Billy Soemawisastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13333083922610946230</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_xs69eKlboEg/SKw-Y3SIYyI/AAAAAAAAAK4/fb6e7KbWWDI/S220/bang+billy+3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1417497512382010708.post-4090518402826654222</id><published>2008-04-10T16:43:00.003+07:00</published><updated>2008-09-21T00:48:56.484+07:00</updated><title type='text'>Pemimpin Tanpa Spiritualitas</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh: Arthur John Horoni&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Billy, tiba-tiba aku kangen betul untuk omelin kau. Jangan kaget sobat, pasalnya aku sedih lantaran blog yang kau gawangi, Bung Daktur ARH, sepi berkepanjangan. Apakah sobat-sobat kita begitu sibuknya sehingga, bahkan menoreh sepotong ungkapan pun tak sempat? Di mana gerangan sembunyi Wanti, Wina, Munir, Untung, Sam, Endah, Bustami, Toto, Yulie,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dara Agustina, Sandra, Komar,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sammy, dst, dst? Atau lantaran cara kau kampanye tak dikemas sesuai selera pasar? Atau, jangan-jangan, semoga aku salah, mereka lebih afdol berkompetisi untuk proyek material sehingga emoh merawat sektor spiritualitas?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dalam kenanganku, Bung Daktur, Mas Zen, yang sudah lebih enam bulan kembali kehadirat Penciptanya, adalah guru spiritualitas. Spirit, kita alihkan ke bahasa kita, semangat. Padahal lebih kena roh atau ruah: keyakinan yang teguh. Pada Bung Daktur, tatkala Bengkel Belia ARH dideklarasikan bulan Desenber 1975 di Pantai Cisolok, Pelabuhan Ratu, Jawa Barat, keyakinan yang teguh itu terpateri dalam idiom, “untuk Tuhan dan Tanah Air, kami berbakti”. Idiom itu diakuinya tidak orisinal miliknya. Ia mengutip Lord Baden Powell, Bapak Kepanduan Dunia. Maklum, zaman remaja (ABG, kata anak muda kiwari), Bung Daktur ikut kepanduan. Makanya dia memiliki itu tadi, spiritualitas. Entah kenapa setelah pandu menjadi pramuka, gerakan itu malah memble. Maaf.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Billy sobatku yang panjang sabar...&lt;span style=""&gt;                               &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Aku rasa kita perlu memperbincangkan ikhwal spiritualitas ini. Bagiku, spiritualitas tidak identik dengan ajaran agama. Ia mengatasi tembok doktrin. Ia dapat saja ditemui dalam keutuhan iman, kearifan budaya lokal, sejarah, perjuangan rakyat tertindas untuk bertahan hidup, humor, puisi, tarian, nyanyian para sufi atau celoteh sederhana petani organik yang anti pupuk kimia dan bibit hibrida. Orang yang memilih sikap emoh terhadap roh-roh zaman macam: mamonisme (kemaruk duit), materialisme, konsumerisme, narsisisme, korupsi, gila kuasa dan sebangsanmya, tentu orang yang memiliki spiritualitas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Nah, di sinilah soalnya. Nilai ini yang tampaknya sulit kita temukan, ia telah menjadi sesuatu yang luks di tengah-tengah trend pragmatisme atawa mumpungisme. Pada akhir dasawarsa 70-an sampai awal 80-an abad silam, tatkala kita bersama-sama Bengkel Belia ARH kamping di G. Salak atau di perkebunan di Subang, kau ingat, kita berlatih bagaimana menjadi demokrat dalam pemilihan kepala suku. Inspiratornya tentu saja Bung Daktur. Bayangkan, di tengah-tengah situasi otoriter Suharto waktu itu, kita sudah mempraktekkan attitude (sikap) anti mapan. Berani melawan arus, kata orang. Perdebatan dihalalkan,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;perbedaan pendapat diterima sebagai rahmat, ekspresi diri yang bebas dimuliakan. Ingat semangat perlawanan dalam Lomba Baca Puisi-puisi Tempe yang sarat sajak protes pada 1979 atau Aksi Musik ARH 80. Bengkel Belia ARH sudah berani pada saat Suharto dan Orbanya masih berjaya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tak pelak, karena kita dilandasi spiritualitas, kalau aku boleh berefleksi. Toh tak perlu kita sesali ketika ada yang tak tahan. Tatkala para senior kita memilih jalan partai politik, spiritualitas untuk memihak kepada kaum yang terpinggirkan, rakyat jelata, yang dalam puisi Taufiq Ismail digambarkan sebagai, “yang di pinggir jalan mengacungkan tangan kepada bus yang penuh,” tersingkir. Jalan pragmatisme menjadi pilihan. Apa boleh buat, kalau tidak sekarang, kapan lagi ikut-ikutan berkuasa. Celakanya, setelah reformasi bergulir sejak 1998, semangat mumpung orang partai malah semakin menjadi-jadi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kekuasaan menjadi dambaan, dan rakyat boleh makan janji kampanye saja. Rakyat Jakarta sudah digilas janji kampanye gubernurnya karena ternyata, kendati ahlinya sudah berjaya, banjir (ada hujan maupun tidak hujan), kemacetan jalanan, kesemrawutan tata kota, penggusuran rakyat jelata tetap saja jadi cerita sehari-hari. Rakyat Sumatera Utara dan Jawa Barat hari-hari ini juga lagi melahap janji kampanye. Sialnya, calon perseorangan belum dapat kesempatan, padahal calon yang dijagokan partai yang oligarkis dan sentralistik ini tak sesuai harapan rakyat. Padahal meraka bakal memimpin provinsi-provinsi itu lima tahun ke depan. Dan para politisi yang diusung partai-partai ini semua tak memiliki roh. Tak punya spiritualitas. Beragama pasti. Sangat taat. Tapi apa itu sudah jaminan memiliki spiritualitas?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Billy,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Maukah kau sejenak membayangkan negara yang para pemimpinnya tak memiliki keyakinan yang teguh, roh, untuk menyejahterakan rakyatnya? Tanpa spiritualitas kita berada dalam suasana anomali, tanpa pegangan, tak jelas mana yang boleh dan mana yang tak boleh. Tak jelas etikanya, karena material jadi tujuan, dambaan, sementara mental-spiritualnya jadi pemanis bibir saja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tentu saja tak mudah merawat dan menumbuhkan spiritalitas, keyakinan yang teguh, sikap batin yang mengarah kepada penegakan hak dan martabat manusia. Seorang teman dulu pernah becanda, begini, “sobat, kita bisa berbeda agama tapi satu iman.” Aku kaget mulanya. Maksudmu? “Ya, iman kita kan keadilan, walau agama bisa berbeda.” Tapi bukankah semua agama mengumandangkan keadilan, perdamaian, persaudaraan dan penghormatan kepada alam ciptaan Tuhan. Ya, rohnya, spiritualitasnya begitu, tapi praktek banyak orang beragama tidak begitu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Apalagi kalau sudah jadi politisi yang bercita-cita jadi penguasa. Rakyat cuma jadi kendaraan yang dibayar murah. Partai telah mengijonkan rakyat demi mendapatkan uang untuk biaya kampanye. Gosipnya, para calon pemimpin harus membayar pemimpin partai sekian M. Wow. Saat kampanye, setiap kepala manusia yang dikerahkan, mendapat nasi bungkus seharga 15 ribu rupiah ditambah uang transpor. Hitung-hitung Rp 100.000 sehari itu. Lumayan, ketimbang nggagur, kata rakyat. Padahal harga seekor kambing boleh jadi di atas Rp 500.000. Celaka, para politisi, para pemimpin tanpa spiritualitas, menghargai seorang rakyat lebih rendah dari seekor kambing! Kutuk apa gerangan ini, Billy?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mungkin kita perlu bermimpi, suatu hari, entah kapan, siapa tahu saat negeri yang terlalu luas ini secara pragmatis memilih jalan republik federasi,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;akan muncul pemimpin yang mau belajar jujur pada dirinya sendiri, mau menghargai dirinya apa adanya, yang mandiri dan merdeka dari relasi kekuasaan penindasan, yang berani memilih berpihak kepada kepentingan rakyat, yang memiliki bela rasa, kepekaan dan keperdulian kepada rakyatnya yang sengsara (bukan yang berurai airmata lantaran nonton film, namun tak menangis saat ada ibu hamil mati karena kelaparan), yang menghargai waktu – tidak menunda-nunda keputusan penting, yang setia mendengar suara rakyat, yang selalu belajar dari sejarah (keledai saja tak pernah terperosok ke dalam lobang yang sama), yang sedia menjadi pelayan rakyat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Karena menjunjung nilai-nilai itu, sang pemimpin pun dihargai, karena ia memiliki watak yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bijak. Ia memiliki keyakinan yang teguh untuk membangun bangsa dan negara bersama rakyatnya. Ia memiliki spiritualitas. Tak salah mulai dari mimpi ya? Mumpung belum dilarang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Medan, 8 April 2008.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1417497512382010708-4090518402826654222?l=bungdaktur-arh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungdaktur-arh.blogspot.com/feeds/4090518402826654222/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1417497512382010708&amp;postID=4090518402826654222' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1417497512382010708/posts/default/4090518402826654222'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1417497512382010708/posts/default/4090518402826654222'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungdaktur-arh.blogspot.com/2008/04/pemimpin-tanpa-spiritualitas.html' title='Pemimpin Tanpa Spiritualitas'/><author><name>Billy Soemawisastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13333083922610946230</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_xs69eKlboEg/SKw-Y3SIYyI/AAAAAAAAAK4/fb6e7KbWWDI/S220/bang+billy+3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1417497512382010708.post-6021330182969770591</id><published>2007-11-21T16:19:00.020+07:00</published><updated>2008-09-19T15:31:05.289+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wacana'/><title type='text'>Surat Elektronik buat Teman dari Seorang Brodkaster Manula</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_xs69eKlboEg/SNNi-yuQxAI/AAAAAAAAAN0/aqxoGZKJEP8/s1600-h/MamaKu.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_xs69eKlboEg/SNNi-yuQxAI/AAAAAAAAAN0/aqxoGZKJEP8/s200/MamaKu.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247646821723980802" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" lang="IN"&gt;Oleh: Zainal Abidin Suryokusumo&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; color: rgb(0, 0, 0); text-align: justify; font-weight: bold;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Semula, saya ingin menggunakan judul: “Surat Elektronik buat Teman, dari Seorang Brodkaster Veteran”. Saya pikir-pikir, &lt;i&gt;kok&lt;/i&gt; jumawa amat saya ini. Oleh sebab itu, saya tukar “brodkaster manula”. Toh, KTP saya pun &lt;i&gt;nggak&lt;/i&gt; perlu lagi diganti. Berlaku seumur hidup. &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; elektronik ini, saya maksudkan sebagai pengganti sms saya, yang acap “membaweli” anda. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Daripada menjadi bisul di muka, mending saya bicara. Toh ini negeri merdeka. Ketimbang mengganjal dihati, maka saya memilih untuk berbagi. Teman, konon, merupakan tempat yang paling pas untuk saling berbagi perasaan. Dan &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; elektronik, saya pilih untuk menyampaikan isi hati saya. Ungkapan perasaan yang saya sampaikan lewat &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; terbuka ini, bukan merupakan barang baru. Namun tetap saja, merupakan masalah dasar dari keyakinan saya, berkenaan &lt;span lang="IN"&gt;dengan pembangunan&lt;/span&gt; sistem media &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; nasional yang bersifat demokratis. Suatu sistem media, yang mampu membawa bangsa menjadi masyarakat informatif, dan pada giliran berikut, mampu mengantarkannya menjadi masyarakat terbuka. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Ketika membicarakan masyarakat demokratis, sesungguhnya kita membicarakan masalah kemerdekaan warganegara. Dan kemerdekaan ini, acap dirumuskan sebagai hak-hak untuk berkomunikasi, berkaitan dengan: kebebasan berkeyakinan, kebebasan berbicara, kebebasan berkumpul dan berorganisasi, serta kebebasan mengakses informasi. &lt;st1:place&gt;Para&lt;/st1:place&gt; skolar komunikasi selalu menyebut: &lt;i&gt;legal guarantees of fundamental Human Rights always name freedom of expression and the right to receive information as an essential principle. &lt;/i&gt;Oleh karena itu, kemerdekaan media, pada intinya haruslah mampu menyalurkan secara bebas arus informasi, dan arus pertukaran pendapat, guna menjamin hak rakyat untuk tahu. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Gerangan mungkinkah impian seperti itu terujud? Alhamdulillah, konstitusi kita telah beberapa kali di amandemen. Dan ketika kita mendiskusikan masalah hak-hak sipil dan politik serta sistem media demokratis di negeri ini, keyakinan saya mengatakan bahwa, rujukannya haruslah Amandemen Kedua UUD 1945. Lewat medium ini, konsentrasi &lt;i&gt;sharing &lt;/i&gt;yang hendak saya sampaikan kapada anda adalah, mengenai pembangunan sistem media penyiaran nasional. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; color: rgb(0, 0, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; color: rgb(0, 0, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Perasaan saya Ihwal Amandemen Kedua UUD 1945 dan Pembangunan Sistem Media Penyiaran Nasional.&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; color: rgb(0, 0, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Pengalaman saya dari membongkar-bongkar kepustakaan berkaitan dengan upaya sesuatu masyarakat “teratur” membangun sistem media penyiaran, saya temukan dua masalah inti, yakni: pembangunan sistem media penyiaran, senantiasa bertolak dari konstitusi; dan &lt;span style="font-size:7;"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;media penyiaran bersifat &lt;i&gt;more regulated&lt;/i&gt; , dibanding dengan media cetak. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Karenanya, di dalam dirinya, perundang-undangan tentang media penyiaran bersifat paradoks. Regulasi-regulasi itu di satu sisi bersifat membatasi, sementara di sisi lain regulasi itu juga, bukan saja menjamin kemerdekaan, tetapi juga harus memajukan media penyiaran. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Dalam pengamatan saya, ternyata UUD 1945, memberi landasan kokoh bagi pembangunan sistem penyiaran nasional, dengan menggunakan kedua kerangka berpikir itu. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; color: rgb(0, 0, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; color: rgb(0, 0, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Justifikasi Pengaturan Media Penyiaran.&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Semua kita memahami bahwa, hukum memperoleh justifikasi teknologis untuk mengatur media penyiaran melalui suatu undang-undang, karena media ini menggunakan infrastruktur yang namanya gelombang radio. Konstitusi di semua negara “teratur” memastikan bahwa, gelombang radio merupakan ranah publik, yang dikuasasi negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. UUD 1945 juga menganut paham ini, seperti yang ternukil pada pasal 33(3). &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Pasal 33(3) inilah yang kemudian dijadikan titik tolak, dalam proses pengalokasian perizinan. &lt;span lang="IN"&gt;Saya menggunakan&lt;/span&gt; terminologi alokasi izin, karena izin penyiaran dengan sendirinya mengandung hak penggunakan gelombang radio. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Siapa yang berhak menggunakan ranah publik itu? Semua warganegara. Amandemen kedua UUD 1947, mengenal hak-hak keadilan. Hal itu tampak pada pasal-pasal 28D(1), 28H(2) dan 28I(2). &lt;i&gt;Equality rules &lt;/i&gt;seperti &lt;span lang="IN"&gt;diperintahkan&lt;/span&gt; hukum dasar itu, bukan cuma mengharuskan ditegakkannya asas keadilan, namun mewajibkan pula asas tranparansi, dalam pengalokasian izin penyiaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 33(3) menegaskan; &lt;i&gt;ranah publik dikuasai negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. &lt;/i&gt;Ketika diterapkan ke dalam Undang-undang Penyiaran, anak kalimat &lt;i&gt;“…dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat,“ &lt;/i&gt;, diterjemahkan menjadi &lt;i&gt;“…kepentingan, kenyamanan dan kebutuhan publik “.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa di antara warganegara yang mengajukaan lamaran mendapatkan perizinan, yang berhak memenangkannya? Pelamar yang paling mampu memenuhi kepentingan, kenyamanan dan kebutuhan publik. Oleh karenanya, &lt;span lang="IN"&gt;hukum&lt;/span&gt; kemudian menyatakan; pemegang izin penyiaran secara legal mendapatkan hak istimewa. Dan, karena menyandang hak istimewa, apabila didapati melanggar kepentingan, kenyaman dan kebutuhan publik, maka atas dirinya bisa dikenai sanksi. Sanksi terberat adalah pencabutan izin ( pasal 34(5) dan 55(2g) UU 32/2002). Proses perizinan dan pengenaan sanksi, masih akan diatur oleh Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Dalam catatan saya, penetapan PP berkaitan dengan perizinan perlu dicermati hal-hal:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;li&gt;Asas keadilan;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Asas transparansi;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kesebandingan jumlah stasiun dengan demografi suatu wilayah siaran.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt 36pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Dalam beberapa kali diskusi saya menangkap gagasan; serahkan jumlah stasiun pada suatu wilayah siaran tertentu, kepada kekuatan pasar. Biar pasar yang menentukan mati-hidup sesuatu stasiun. Bila gagasan itu dimenangkan lewat Peraturan Pemerintah, saya harus mengatakan, asas penjagaan kepentingan, kenyamanan dan kebutuhan masyarakat, akan sangat mungkin terabaikan. Karena – khususnya buat siaran komersial – tingkat pendapatan mereka, akan menentukan kadar mutu pelayanannya kepada publik.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; color: rgb(0, 0, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Kemerdekaan Media Penyiaran&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Media penyiaran, sebagaimana media lainnya, mengandung yang disebut sebagai &lt;i&gt;public goods&lt;/i&gt;, yang dalam pemahaman saya, berupa isi media. Isi media ini pun, dijamin oleh konstitusi. Simak perintah pasal 28 UUD 1945, yang kemudian diperkaya dengan Bab XA yang terdiri dari 10 pasal, pada Perubahan Kedua konstitusi kita itu. Perlindungan konstitusional itu, tidak melulu diabadikan dalam pasal 28F. Tapi juga tersebar pada pasal-pasal 28C(1)(2), 28E(2)(3), 28I(1), (3), (4) &amp;amp; (5), dan 28J(2). Kesemuanya mengabadikan Hak Asasi Manusia. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Saya harus menyebut hak-hak sipil dan politik warganegara di luar pasal 28F. Lantaran, tiga basis kemerdekaan politik warganegara :&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;li&gt;Kemerdekaan berbicara (28E(2));&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kemerdekaan berkumpul (28E(3)); &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kemerdekaan berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan politik (28C(2)); mustahil terlaksana tanpa adanya kemerdekaan media. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Salah satu prinsip dasar demokrasi adalah kemerdekaan berekspresi. Dalam penetapan sejumlah &lt;i&gt;Code &lt;/i&gt;– Standar Program dan Pedoman Perilaku Penyiaran – sebagaimana diwajibkan pasal 8 (2a) dan (2b), KPI seyogianya memahami bahwa: brodkaster bebas untuk menyiarkan program yang memuat &lt;i&gt;issue &lt;/i&gt;apapun yang mereka pilih, namun tunduk pada: &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;Obligation of fairness and respect for the truth &lt;/i&gt;(pasal 8(3d) dan 36(4) UU32/2002).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;Basic moral values&lt;/i&gt; (pasal 28J(2) Amandemen Kedua UUD 1945 &amp;amp; pasal 36 (3)(5)(6) UU 32/2002).&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Saya sangat, sangat memahami, dalam penyusunan dan kemudian penegakan kesemua kode seperti ditetapkan UU 32/2002, KPI bukan saja bakalan menghadapi tantangan berat, bahkan tudingan sebagai penjelmaan Deppen. Untuk itu saya ingin menegaskan, dalam masalah penyiaran, kepentingan tertinggi ada pada sisi publik. Media penyiaran memang harus dilindungi, sejauh tidak melanggar kepentingan publik. Saya tidak takut menghadapi KPI yang “bergigi tajam”. Di negara-negara “teratur” regulator penyiaran, selalu disebut sebagai &lt;i&gt;“quasi judicial tribuanal“, &lt;/i&gt;yang berwenang mengeluarkan regulasi, dan menjatuhkan sanksi. Ketidaktakutan saya terhadap KPI, karena ada jaminan UU 32/2003. Menurut UU ini, berlaku dobel kontrol terhadap KPI yakni; dari DPR (pasal 7(4)) dan masyarakat ( pasal 52(1)). &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Saya bisa memahami ketakutan seorang teman, apabila KPI diserahi kewenangan ganda, baik sebagai penentu regulasi dan pengena sanksi. Karena pendekatannya, teori kuno yang disebut Trias Politica itu. Dunia “teratur” sudah lama menyadari, &lt;i&gt;control from within &lt;/i&gt;– kontrol yang datang dari dalam, semata-mata antar lembaga-lembaga negara, dianggap tidak lagi memadai. Karena itu, kemudian dikenal pers sebagai Kekuatan Keempat. Teori ini pun, lama-lama juga dianggap usang. Harus ada kekuatan yang lain, yang mampu melakukaan kontrol, terhadap berputarnya roda penyelenggaraan negara. Pasal 28C(2) UUD 1945 tegas-tegas menyatakan: setiap warganegara berhak untuk berpartisipasi, dalam proses pengambilan keputusan. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Dunia penyiaran memang mengenal &lt;i&gt;Code of Practices &lt;/i&gt;yang berlaku sebagai &lt;i&gt;self-regulation. &lt;/i&gt;Itu dipraktekkan di Amerika Serikat. National Association of Broadcaster/NAB menyusun Kode Perilaku Penyiaran itu. Tapi coba &lt;i&gt;kebet-kebet&lt;/i&gt; aturan-aturan FCC. Saya yang paling hafal, ketentuan FCC yang mengatakan: setiap stasiun penyiaran yang menurunkan editorial yang isinya menyerang seorang kandidat dalam suatu pemilu, dalam waktu satu minggu, wajib mengirimkan rekamannya kepada kandidat yang diserang tersebut. Menurut saya, keliru sekali pendapat yang mengatakan bahwa, kontrol isi penyiaran cukup berupa &lt;i&gt;self-regulation. &lt;/i&gt;Kode etik, memang benar berlaku sebagai &lt;i&gt;self-regulation. &lt;/i&gt;Di Amerika Serikat, kode etik penyiaran disusun oleh RTNDA – Radio Television News Director Association. Tapi tidak seabsolut itu dalam hal &lt;i&gt;Code of Practice. &lt;/i&gt;Dalam contoh AS tadi jelas benar. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Dalam kasus &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, UU 32/2002 menurut saya mengadopsi cara Inggris, yang sistem hukumnya dikatakan paternalisti&lt;span lang="IN"&gt;k&lt;/span&gt; itu. Saya seringkali heran, orang marah kalau kita harus mengadopsi sesuatu dari luar. (catatan saya untuk itu, memangnya &lt;span lang="IN"&gt;hukum kita murni kelahiran Nusantara, kecuali Hukum Adat?).&lt;/span&gt; Pasal 90 dan 91 British Broadcasting Act 1996, menegaskan: pembuatan pedoman perilaku penyiaran merupakan wewenang baik ITC maupun RA (Inggris mempunyai dua otoritas penyiaran). Dan karena kita hanya memiliki satu badan regulator penyiaran, maka wewenang penyusunan Standar Program dan Pedoman Perilaku Penyiaran, oleh undang-undang dilimpahkan kepada KPI ( pasal 8(2a) dan (2b) UU 32/2002). &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Agar tidak menyalahi ketentuan pasal 52(1) UU 32/2004, dalam penyusunan Standar Program dan Pedoman Perilaku Penyiaran, KPI harus mengikutsertakan masyarakat. Dan menurut saya Standar Program dan Pedoman Perilaku Penyiaran, seharusnya dikaitkan dengan proses perizinan. Artinya, pemohon izin harus menandatangani persetujuan terhadap keberadaan kedua produk KPI. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Mungkin saya salah; dan sungguh mati saya berharap begitu; media kita – teristimewa media elektronik - lebih cenderung mengolah informasi sebagai komoditas, ketimbang membuka ruang bagi publik untuk menyampaikan apa yang menjadi pikiran, perasaan dan harapan mereka dalam hidup berbangsa dan bernegara. Lantaran saya berasal dari rumpun media elektronik maka saya ingin mengatakan, keunggulan media penyiaran, terletak pada kemampuannya dalam menjaring umpan balik dari masyarakat secara segera dan serentak. Sampai sekarang pun ini tetap menjadi mimpi saya, bagaimana media penyiaran memanfaatkan keunggulan tersebut, sehingga suara rakyat tidak hanya terdengar sekali dalam &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; tahun lewat pemilu. Tapi selalu bergema. Sehingga para pengambil keputusan di negeri ini sadar bahwa, mereka selalu “diintip” masyarakat.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Saya memahami kemerdekaan media, bukan berarti &lt;i&gt;glorifying violence &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;life-style &lt;/i&gt;yang sungguh aduhai ditengah-tengah kemelaratan mayoritas manusia Indonesia, karena alasan &lt;i&gt;rating &lt;/i&gt;tinggi, dan oleh sebab itu laku-jual. Bagi saya, kemerdekaan media lebih mengandung &lt;i&gt;free flow of information and exchange ideas, &lt;/i&gt;guna memenuhi hak rakyat untuk tahu. Saya yakin, bila hal itu dilakukan media kita, masyarakat kita yang sungguh sangat beragam ini, tidak akan teralienasi satu-sama lain. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;Keputusan Mahkamah Konstitusi.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Seingat saya, baik melalui sms maupun telepon, ada dua orang teman yang mengatakan, bahwa keputusan MK konstitusional. Seorang teman malah merujuk pada pasal 5 (2) Perubahan Pertama UUD 1945. Tatkala saya buka konstitusi dan saya baca pasal tersebut, memang benar, penetapan Peraturan Pemerintah berada di tangan Presiden. Jadi yang salah bukan keputusan MK. Tapi UU Nomor 32/2002 yang menetapkan; untuk menjalankan undang-undang ini, maka dibuat ketentuan lebih lanjut yang disusun oleh KPI bersama Pemerintah. Ketentuan lebih lanjut seperti tercantum pada pasal-pasal 14(10), 18(3 &amp;amp; 4 ), 29(2), 30(3), 31(4), 32(2), 33(8), 55(3), dan 60(3) itulah, yang ditafsirkan MK sebagai Peraturan Pemerintah. Sedangkan pasal-pasal 11(3) dan 12 yang mengatur tata cara penggantian anggota KPI dan pembagian kewenangan dan pengaturan tata hubungan KPI Pusat dan KPI Daerah, tidak tersentuh keputusan MK. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Yang menjadi pertanyaan saya, apa yang sesungguhnya membedakan KPI dan KPU, sebagai sesama &lt;i&gt;independent regulatory body&lt;/i&gt;?&lt;i&gt; &lt;/i&gt;Yang membedakan adalah bidang kerjanya. KPU juga dinyatakan sebagai badan regulator yang bersifat &lt;i&gt;independent, &lt;/i&gt;seperti dirumuskan dalam pasal 15(1) UU No 12/2003 tentang Pemilihan Umum. Menurut UU No 12/2003 KPU sebagai Penyelenggara Pemilu, diberi kewenangan menyusun ketentuan guna melaksanakan undang-undang ini. Sekedar contoh, bisa dilihat di pasal-pasal 75(9), 77(3), 81(2), 85(3), 87. Dalam pasal-pasal UU 12/2003 itu, sama sekali tidak disebut-sebut KPU harus menyusun ketentuan itu bersama pemerintah. Itulah yang membedakannya dari KPI. UU 32/2002, yang mewajibkan KPI menyusun ketentuan bersama pemerintah. Dan pasal 62(1) telak-telak menyebut “…ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah “. Dugaan saya, kecelakaannya terletak di situ. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Sepengetahuan saya, hakim – termasuk hakim MK – berhak &lt;span lang="IN"&gt;membuat&lt;/span&gt; hukum, dengan memberi makna pada pasal-pasal undang-undang, guna menciptakan keadilan. MK telah melaksanakan itu, dengan merujuk pada pasal 5(1) Perubahan Pertama UUD 1945, persis seperti bunyi pasal itu. Dan keputusannya: final. Secara berseloroh sejumlah teman saya sms dan saya katakan; Hanya ada Tuhan diatas MK. Dan seorang teman, via telepon; protes. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; color: rgb(0, 0, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; color: rgb(0, 0, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Peraturan Pemerintah untuk Menjalankan UU No 32/2002.&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Tanpa ada Keputusan MK yang mencabut pasal 62 (1) &amp;amp; (2), UU No 32/2002 memang &lt;span lang="IN"&gt;bersifat&lt;/span&gt; kontroversial. Potensi kotroversi dalam pandangan saya terutama terlihat pada pasal 33(4C), (4d) dengan pasal 33(5), yang mengatur proses perizinan. Namun, dengan adanya Keputusan MK, saya hampir-hampir yakin, perdebatan itu dapat diredam melalui PP seperti ditetapkan pada pasal 33(8). Dengan kata lain, bila ada perbedaan pendapat antara KPI dan Pemerintah, tentang pemohon mana yang memenangkan perizinan, maka yang akan dimenangkan adalah pemerintah. KPI yang dinyatakan sebagai wujud peran serta masyarakat ( pasal 8(1)), akan terpinggirkan. Semoga dugaan saya salah besar. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Kontroversi berikutnya ada pada pasal 37, yang mewajibkan media penyiaran mempergunakan bahasa &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Yang harus dipertanyakan, undang-undang ini memungkinkan lahirnya siaran berformat etnik – komersial ataupun komunitas – berbahasa etnik &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; tertentu atau tidak? Pasal 34(4) pun, pada pikiran saya menyimpan masalah yang sangat bisa diperdebatkan. Saya memiliki saham pada stasiun tertentu, menurut pasal ini – termasuk penjelasannya – kalau saya mati, tidak membolehkan saya mewariskan saham saya pada anak-anak saya. Pertanyaannya adalah, siapa yang akan memiliki saham saya? Modal yang dahulu pernah saya tanamkan, dan kemudian berbuah, siapa yang berhak menikmati? Bila pasal 34(4) ini tidak dicermati, saya khawatir akan terjadi perampasan hak pribadi, atas nama &lt;span lang="IN"&gt;hukum&lt;/span&gt;. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Tentang wilayah siaraan UU No 32/2002 dalam pasal 31(5) menyatakan, stasiun penyiaran &lt;span lang="IN"&gt;lokal&lt;/span&gt; dapat didirikan di lokasi tertentu dalam wilayah negara Republik Indonesia dengan wilayah jangkauan siaran terbatas pada lokasi tersebut. Penjelasannya; “cukup jelas“. Melihat pengalaman negara lain yang telah cukup &lt;i&gt;advance &lt;/i&gt;perkembangan penyiarannya, ketika menetapkan suatu wilayaah siaran, pada galibnya mereka tidak melulu mengukur dari &lt;span lang="IN"&gt;wilayah&lt;/span&gt; administratif pemerintahan, melainkan meninjaunya dari besaran pasar. Jumlah stasiun pada satu wilayah siaran, akan dibatasi sesuai dengan demografi lokal tersebut. Itu pengalaman di negara lain. Bagaimana PP akan mengatur masalah ini? Pengalokasian perizinan, senantiasa dilakukaan secara adil, dan transparan. Saban warga, berdasarkan &lt;i&gt;equality rules,&lt;/i&gt; dijamin Perubahan Kedua UUD 1945 pada pasal-pasal 28D(1), 28H(2) dan 28I(2). Akan diterjemahkan seperti apa oleh Peraturan Pemerintah yang segera akan terbit itu? &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Hukum &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, tidak mengharamkan Peraturan Pemerintah, untuk mereduksi undang-undang yang hendak dilaksanakan. Apalagi menyunat perintah konstitusi. Kalau hal itu terjadi, saya terpaksa harus mengatakan; pemerintah melakukan pelanggaran terhadap konstitusi. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Sesuai dengan kehendak UU No 32/2002 pasal 52(1): “warganegara &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; memiliki hak, kewajiban dan tanggung jawab dalam berperan serta mengembangkan penyelenggaraan penyiaran nasional“. Saya ingin menyerahkan kepada anda, teman, untuk memaknakan perintah pasal itu tadi.. Tapi tentu saja saya punya harapan dari anda, untuk dalam jangka pendek ini, memberi sumbang saran bagi kelahiran Peraturan Pemerintah guna melaksanakan UU No 32/2002. (Ingat perintah pasal 28C(2) UUD 1945, dan pasal 52(1) UU 32/2002 itu tadi). Dan dalam jangka panjang, mengamandemennya. Suatu pikiran yang saya rasa pada saat ini, bisa jadi mengundang cibiran. Namun saya yakin, waktu itu akan datang juga. Seingat saya, Inggris 6 kali melakukan perubahan atas undang-undang penyiaran mereka. Amerika Serikat, tiga kali. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; color: rgb(0, 0, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; color: rgb(0, 0, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Sahibulhikayat.&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Sejumlah teman saya kira masih ingat, ketika pada tahun 98, kita kumpul di Bumi Wiyata Depok, pada saat PRSSNI mengundang sejumlah tokoh perguruan tinggi membicarakan rancangan undang-undang penyiaran, pengganti UU Penyiaran No. 24/1997. Saat itu, tatkala UUD 1945 masih &lt;i&gt;wungkul&lt;/i&gt; seperti apa adanya, dan TAP MPR No 17/1998 tentang HAM, belum lagi keluar, seorang pakar hukum ketetanegaraan kondang dari UI berujar: “Jangan anda mimpi, melahirkan sesuatu undang-undang dengan menyerahkan kewenangan pelaksanaannya pada apa yang anda sebut sebagai Badan Regulator Independen “. Itu pil pahit pertama yang saya kunyah-kunyah. Dalam perjalanan berikutnya pun, bersama teman-teman MPPI, banyak pengalaman yang bisa jadi tidak menyenangkan kala itu. Termasuk pengalaman PRSSNI/MPPI mencegat UU No 36/1999 tentang Telekomunikasi. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Saya terbiasa kalah. Namun oleh lewatnya waktu, kini terasa manis. Lantaran, kekalahan masa lalu; pengalaman-pengalaman itu; ternyata telah memperkaya batin saya, dan saya yakin, juga batin teman-teman Komunitas Kebon Sirih.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Alhamdulillah, konstitusi kita telah mengalami perubahan sehingga menjamin ruang kebebasan bagi warganegaranya. Modal konstitusional, sudah ada di kantong, setidak-tidaknya. Dan karenanya, kita tidak lagi menjadi &lt;i&gt;“minder” &lt;/i&gt;mempermasalahkan hak-hak warganegara. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Saya malu mengatakan “ Selamat berjuang “. Saya ganti saja deh, sebagai takzim saya kepada anda: Tabik, teman-teman.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;br /&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, 30 Juli 2004. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0); text-align: justify;"&gt;Zainal A. Suryokumo. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoFooter" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;[&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Catatan Kuncen:&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tulisan ini, merupakan email yang dikirimkan almarhum Zainal Abidin Suryokusumo kepada rekan-rekannya para anggota KPI, pada tanggal tersebut diatas. Arsip email ini ditemukan Tantri Suryokusumo, puteri almarhum, di dalam laptop peninggalan Bung Zainal. Tantri kemudian mengirimkannya ke Blog Bung Daktur ARH&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1417497512382010708-6021330182969770591?l=bungdaktur-arh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungdaktur-arh.blogspot.com/feeds/6021330182969770591/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1417497512382010708&amp;postID=6021330182969770591' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1417497512382010708/posts/default/6021330182969770591'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1417497512382010708/posts/default/6021330182969770591'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungdaktur-arh.blogspot.com/2007/11/surat-elektronik-buat-teman-dari.html' title='Surat Elektronik buat Teman dari Seorang Brodkaster Manula'/><author><name>Billy Soemawisastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13333083922610946230</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_xs69eKlboEg/SKw-Y3SIYyI/AAAAAAAAAK4/fb6e7KbWWDI/S220/bang+billy+3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_xs69eKlboEg/SNNi-yuQxAI/AAAAAAAAAN0/aqxoGZKJEP8/s72-c/MamaKu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1417497512382010708.post-2976396568330999709</id><published>2007-11-19T17:32:00.002+07:00</published><updated>2008-09-21T00:52:21.319+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ihwal'/><title type='text'>Ketika Rakyat Bermain Peran</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_xs69eKlboEg/R0FvR6QjWhI/AAAAAAAAAIw/QbvV7-RJBcE/s1600-h/untung2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_xs69eKlboEg/R0FvR6QjWhI/AAAAAAAAAIw/QbvV7-RJBcE/s400/untung2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5134507403666217490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;b style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Oleh: Arthur J. Horoni&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" style="'width:192pt;"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\NEWSTA~1.SCT\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.jpg" title="STA61544"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Gerangan apa yang dihasilkan “perubahan”, kata kunci dari hingar bingar pemilu (legislatif dan presiden) 2004? Ternyata cuma (menurut Prof. Dr. Hotman Siahaan); &lt;i style=""&gt;ontran-ontran&lt;/i&gt; demokrasi. Rakyat masih mengalami kekerasan kultural maupun struktural dalam kehidupan politik, manakala menyaksikan para politisi yang menjadi wakil rakyat menjadi “orang-orang kaya baru” – apakah melalui praktik nepotisme, kolusi, ataupun korupsi – berbarengan dengan itu telah meruntuhkan sebagian besar konstituen menjadi “orang-orang miskin baru”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Orang-orang miskin baru ini boleh jadi hidup di tengah paradoks. Di satu sisi mereka penyabar, menerima nasib sengsara sebagai takdir atau karma. Namun di sisi lain, mereka sadis: membakar hidup-hidup seorang maling. Mereka juga pemberang, karena menganggap sistem yang ada tidak adil, koruptif, yang membuat bagian terbesar rakyat jadi kehilangan, tersingkir, tertindas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Toh bukan mustahil muncul juga kelas rakyat yang tampil beda. Mereka bukan penyabar, tak pula pemberang. Namun nakal, &lt;i style=""&gt;mbeling&lt;/i&gt;, kalau pinjam terminologi Remy Sylado. Kelas ini menertawakan situasi, dan tak berhenti sampai di situ. Mereka coba-coba bermain peran. Andaikan aku bukan “orang-orang miskin baru” namun “orang-orang kaya baru”, seperti apa aku menghayati dan menikmati situasi itu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tokoh-tokoh inilah: rakyat &lt;i style=""&gt;mbeling&lt;/i&gt; yang bermain peran itu,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang mencuat lewat syair-syair &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Nyanyian Anti Korupsi&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. Kolaborasi Untung Hadi Makalidirdja dan Yopie Doank ini, menghasilkan aktor-aktor teater rakyat yang karikatural dan ceriwis .&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Aku ini anak negeri&lt;br /&gt;Aku punya hak asasi&lt;br /&gt;Aku ingin jadi menteri&lt;br /&gt;Akan kubangun pabrik panci&lt;br /&gt;Agar rakyat selalu memuji&lt;br /&gt;Kalau aku jadi menteri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Anakku sekolah di luar negeri&lt;br /&gt;Buang duit aku tak peduli&lt;br /&gt;Sebab jabatan satu posisi&lt;br /&gt;Dan itu hal yang manusiawi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;(Nyanyian Anak Negeri, Untung HM/Yopie Doank)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Bermain peran adalah salah satu media yang atraktif dalam membangun kesadaran kritis rakyat. Melalui metode ini rakyat dimampukan menganalisis situasi yang dihadapinya, mungkin sektoral, namun bisa juga sampai ke nasional ataupun global. Karena itu, berbeda dengan model protes yang asal memaki-maki, bermain peran meniscayakan orang berefleksi, menilai apa yang sudah terjadi. Proses ini mengundang orang melakukan perenungan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Untung Hadi Makalidirdja, saya kenal sejak besama-sama bekerja di Radio ARH Jakarta era media 70-an hingga awal 80-an abad XX. Ia pengagum seniman Betawi kesohor Benyamin S. dan budayawan Remy Sylado. Terbilang fans berat. Cara dia menyanyi di album ini – lepas dari perkara kaliber – sangat dipengaruhi kedua tokoh tadi. Sepanjang yang saya ingat, ia gemar mengemas bentuk-bentuk media ekspresi yang substansinya menyoroti persoalan-pesoalan sosial. Jadi saya tak terkejut menonton dia membaca puisi ikhwal bencana Aceh di TVRI bulan Februari 2005 silam. Dia menulis puisi “pamflet” yang cukup menyentuh. Namun waktu mendengar dia mau menyanyi, saya kaget. Kok berani-beraninya dia, padahal suaranya pas-pasan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Namun siapa bisa melarang kawan ini? Kendati dari sudut penyajian – terutama vokalnya Untung – biasa saja, namun dari sudut tematik cukup merangsang imaji justru karena memanfaatkan metode main peran (&lt;i&gt;role play)&lt;/i&gt; itu tadi. Dari pengalaman melakukan pelatihan media ekspresi rakyat bersama organisasi rakyat di pedesaan Jawa Barat, Kalimantan dan Sumatera Utara, isu-isu sosial yang menyangkut hajat hidup rakyat jelata mantap sekali dimainkan. Tema-tema ini bisa dikemas dalam nyanyian, puisi, tarian maupun teater rakyat. Rakyat mencipta cerita dan menjadi peraganya sekaligus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Selain kejelian memilih metode, ada dua hal lain yang perlu diapreasiasi dari album ini: &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kepekaan terhadap nasib kawula jelata – omong kerennya di situ pesan oralnya – dan kemampuan mencipta sekaligus memperagakan tentu saja lepas dari ukuran kaliber. Jadi, coba bayangkan bila sang rakyat berubah peran menjadi raja:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Aku ingin bermain sandiwara&lt;br /&gt;Jadi paduka yang maha raja&lt;br /&gt;Duduk bersila disinggasana&lt;br /&gt;Melihat rakyat yang menderita&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Aku ini rentetan cerita&lt;br /&gt;Jadi raja yang punya tahta&lt;br /&gt;Perdana Menteri selalu kuperintah&lt;br /&gt;Rakyat miskin jangan banyak bicara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tak pelak, sang rakyat “menikmati kemahaberkuasaan” raja, kemudian menertawakannya :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tutup layar tutup lakon&lt;br /&gt;Ini cerita hanya guyon&lt;br /&gt;Paduka rakyat mohon permisi&lt;br /&gt;Menteri-menteri rebutan kursi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;(Keroncong Orba)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sayang dalam beberapa syair lagu, terutama dalam &lt;b&gt;Blues Buat Sang Isteri &lt;/b&gt;dan &lt;b&gt;Salah Comot.&lt;/b&gt; Untung terjebak dalam pandangan &lt;i&gt;stereotype &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;yang merendahkan perempuan sebagai penyebab bencana. Ini jelas-jelas mengundang perdebatan karena bias gender dan cenderung menstigmatisasi perempuan sebagai sumber keamburadulan kehidupan. Apa boleh buat, laki-laki Indonesia masih berada di bawah tempurung budaya patriarki, apalagi bila dilegitimasi oleh doktrin agama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Namun, lepas dari itu semua, inilah sosok Untung Hadi Makalidirdja, sobat saya, plus minus. Ia telah mengusung karyanya, bermain peran bersama rakyat dan saya turut girang menyambutnya. Karena itu catatan saya mesti berhenti di sini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1417497512382010708-2976396568330999709?l=bungdaktur-arh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungdaktur-arh.blogspot.com/feeds/2976396568330999709/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1417497512382010708&amp;postID=2976396568330999709' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1417497512382010708/posts/default/2976396568330999709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1417497512382010708/posts/default/2976396568330999709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungdaktur-arh.blogspot.com/2007/11/ketika-rakyat-bermain-peran.html' title='Ketika Rakyat Bermain Peran'/><author><name>Billy Soemawisastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13333083922610946230</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_xs69eKlboEg/SKw-Y3SIYyI/AAAAAAAAAK4/fb6e7KbWWDI/S220/bang+billy+3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_xs69eKlboEg/R0FvR6QjWhI/AAAAAAAAAIw/QbvV7-RJBcE/s72-c/untung2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1417497512382010708.post-7339472345062730164</id><published>2007-11-12T12:49:00.007+07:00</published><updated>2008-09-21T00:53:41.634+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ihwal'/><title type='text'>Foto Bersejarah: Bung Zainal dan Fosko '66</title><content type='html'>&lt;a style="color: rgb(0, 0, 0);" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_xs69eKlboEg/RzfpnonD_dI/AAAAAAAAAHM/V_-NWi9BBf4/s1600-h/zainal_fosko66.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_xs69eKlboEg/RzfpnonD_dI/AAAAAAAAAHM/V_-NWi9BBf4/s400/zainal_fosko66.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5131827167537397202" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;  &lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 204, 204);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh: Billy Soemawisastra&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini mungkin termasuk foto paling bersejarah yang masih kami miliki. Foto ini diambil beberapa saat setelah usainya musyawarah kerja Fosko '66, sekitar tahun 1980. Dan, mereka yang terpampang di foto ini, adalah para pengurus Fosko'66, yang sebagian besar merupakan Angkatan '66 (KAMI dan Laskar Ampera Arief Rachman Hakim). Beberapa di antaranya, dikenal sebagai politisi tingkat nasional dan tokoh pemerintahan.  Sebut saja misalnya, almarhum Ekky Syahruddin  (berdiri, nomor 5 dari kanan).  Mantan  aktivis KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia)  dan mantan Sekjen PB-HMI (Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam) era kepemimpinan Nurcholish Madjid itu, sebelum meninggal dunia tahun 2006, adalah Duta Besar RI untuk Kanada, anggota DPR-RI dan fungsionaris Partai Golkar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 51);"&gt;Kemudian (berdiri) nomor 7 dari kanan, adalah Fahmi Idris (kini Menteri Perindustrian RI) mantan Komandan Laskar Ampera Arief Rachman Hakim (ARH). Dan, berdiri nomor 6 dari kanan, adalah almarhum Amir Biki. Tokoh kontroversial yang pernah menjadi salah satu Ketua Umum Fosko '66 itu, tewas pada suatu bentrokan senjata dengan aparat keamanan di tahun 1984, dalam insiden yang kemudian dikenal sebagai Peristiwa Tanjung Priok.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 51);"&gt;Di dalam foto ini juga tampak beberapa penyiar Radio ARH 70-an dan 80-an, seperti Dedi S. Pardi (nomor 3 dari kiri), Sammy Marcus (nomor 4 dari kiri), Arthur John Horoni (nomor 7 dari kiri), Billy Soemawisastra (nomor 9 dari kiri), Zulkifli Ibrahim (nomor 4 dari kanan) dan Rahmat Ismail (nomor 8 dari kanan). Tampak pula almarhum Louis Wangge (nomor 8 dari kiri), mantan komandan Laskar Ampera ARH, yang dikenal sangat "keras" sikapnya terhadap pemerintahan Orde Baru.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(51, 0, 51);"&gt;Last but not least&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 51);"&gt;, Zainal Abidin Suryokusumo (duduk di tengah). Waktu itu, selain menjadi penanggung jawab Radio ARH, Bung Zainal juga berperan sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) Fosko '66 selama beberapa periode.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 51);"&gt;Fosko (Forum Studi dan Komunikasi) '66, pada mulanya merupakan sebuah grup diskusi yang beranggotakan para eksponen Angkatan '66. Para pendirinya adalah: Fahmi Idris, Louis Wangge dan Zainal Abidin Suryokusumo. Secara rutin, setiap minggu, kelompok ini menggelar diskusi-diskusi mengenai berbagai permasalahan politik yang sedang hangat, dan kemudian dijadikan bahan masukan untuk organisasi-organisasi politik, Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 51);"&gt;Dalam diskusi rutin ini, Fosko '66 tak jarang mengundang para politisi sipil dan militer (termasuk yang duduk di pemerintahan) untuk tampil sebagai narasumber, sehingga komunikasi dengan berbagai kekuatan politik saat itu terbilang lancar. Saat itu, Fosko pun menjadi kelompok yang cukup disegani. Kredibilitasnya boleh dikatakan sejajar dengan CSIS (Centre of Strategic for Indonesian Studies) dan Fosko-AD (Forum Studi dan Komunikasi Angkatan Darat).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 51);"&gt;Berkat kredibilitas yang dimilikinya, Fosko '66 sering berperan sebagai "jembatan" yang menghubungkan organisasi-organisasi ekstra mahasiswa dengan pemerintah. Maklum, sejak Pemerintah (cq. Menteri Pendidikan &amp;amp; Kebudayaan Daud Yusuf) memberlakukan kebijakan NKK (Normalisasi Kehidupan Kampus) yang melarang kegiatan politik praktis di kampus-kampus, organisasi-organisasi ekstra mahasiswa seperti HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia), PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia) dan PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) menjadi semakin sempit "ruang gerak"nya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 51);"&gt;Selama beberapa tahun, organisasi Fosko '66 menggunakan sistem presidium. Ketua presidiumnya bergantian secara periodik di antara tiga tokoh utamanya, yakni Fahmi Idris, Louis Wangge dan Ekky Syahruddin. Sedangkan Sekjennya, selalu dijabat oleh Zainal Abidin Suryokusumo. Bahkan setelah sistem keorganisasiannya diubah menjadi "sistem ketua" dengan ketua umumnya Amir Biki, sekjennya masih tetap dipercayakan kepada Bung Zainal. Ini menandakan bahwa Bung Zainal-lah, sebenarnya motor utama Fosko '66.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 51);"&gt;Belakangan, kepentingan politik sebagian besar anggotanya, semakin mewarnai perjalanan Fosko '66. Sehingga dalam musyawarah kerjanya pada sekitar tahun 1982, Fosko '66 yang semula beritikad menjadi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(51, 0, 51);"&gt;moral force&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 51);"&gt; (kekuatan moral) yang berfungsi sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pressure group&lt;/span&gt; (kelompok penekan) terhadap kekuatan-kekuatan politik termasuk pemerintah, berbelok haluan menjadi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(51, 0, 51);"&gt;political force&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 51);"&gt; (kekuatan politik). Dalam arti, ikut bermain di kancah perpolitikan, baik sebagai pribadi-pribadi maupun sebagai organisasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 51);"&gt;Kondisi ini mengakibatkan friksi-friksi di dalam tubuh Fosko '66 tak bisa dihindarkan lagi, sehingga muncullah faksi-faksi (sayap) politik. Ada sayap Amir Biki dan Salim Kadar yang berafiliasi ke PPP (Partai Persatuan Pembangunan). Ada faksi Fahmi Idris dan Ekky Syahruddin, yang memilih Golkar (Golongan Karya) sebagai kendaraan politiknya. Tak lama kemudian, Keluarga Besar Laskar Ampera Arief Rachman Hakim, yang merupakan faksi terbesar Fosko '66, menyatakan diri bergabung dengan Golkar, ketika organisasi politik pendukung pemerintah ini dipimpin Wakil Presiden Soedharmono.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 51);"&gt;Lalu ke mana Bung Zainal? Dunia politik praktis bukan pilihannya. Begitu Fosko '66 menyatakan diri sebagai kekuatan politik, Zainal mengundurkan diri dari organisasi yang ikut dibentuknya itu. Impiannya menjadikan Fosko '66 sebagai kekuatan moral intelektual yang disegani semua kalangan, pupus sudah. Ia pun "minggir" dan memilih untuk lebih menekuni dunia penyiaran, dan gigih memperjuangkan hak-hak pekerja pers. Namun peran ini lebih banyak dijalankannya di belakang layar. Ia tidak suka menonjolkan diri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 51);"&gt;Di mana Fosko '66 sekarang? Organisasi itu, konon masih ada. Tapi hanya tinggal sekedar nama, yang semakin pudar, dilupakan orang. Seperti pudarnya foto di atas, yang semakin kusam, semakin rapuh. Namun masih menyimpan banyak kenangan. &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(153, 153, 255);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1417497512382010708-7339472345062730164?l=bungdaktur-arh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungdaktur-arh.blogspot.com/feeds/7339472345062730164/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1417497512382010708&amp;postID=7339472345062730164' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1417497512382010708/posts/default/7339472345062730164'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1417497512382010708/posts/default/7339472345062730164'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungdaktur-arh.blogspot.com/2007/11/foto-bersejarah-bung-zainal-dan-fosko.html' title='Foto Bersejarah: Bung Zainal dan Fosko &apos;66'/><author><name>Billy Soemawisastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13333083922610946230</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_xs69eKlboEg/SKw-Y3SIYyI/AAAAAAAAAK4/fb6e7KbWWDI/S220/bang+billy+3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_xs69eKlboEg/RzfpnonD_dI/AAAAAAAAAHM/V_-NWi9BBf4/s72-c/zainal_fosko66.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1417497512382010708.post-9213589416143286508</id><published>2007-11-12T10:40:00.004+07:00</published><updated>2009-09-17T16:43:14.659+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='In Memoriam'/><title type='text'>Lanjutkan Perjuangan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh: Tantri Suryokusumo&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Hampir dua minggu setelah almarhum meninggal dunia (akibat kanker kelenjar getah bening yang baru terdiagnosis dua bulan sebelumnya), seorang pengajar ilmu komunikasi bilang, "(Semua) Orang penyiaran pasti kenal Pak Zainal,” begitu ia menyadari nama belakang saya Suryokusumo. Aneh, setelah ayah, guru, sahabat, &amp;amp; lawan debat saya meninggal, saya seperti baru tahu bahwa seorang Zainal A. Suryokusumo (atau biasa disapa Bang Zen, Babe, Bung Daktur) adalah &lt;em&gt;big thing&lt;/em&gt; bagi banyak orang. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;"&lt;i style=""&gt;Ngapain&lt;/i&gt; kamu kerja di radio?" itu kalimat almarhum, sewaktu dengan bangganya saya bercerita tentang diterimanya saya sebagai penyiar di sebuah stasiun radio swasta papan atas. Sekitar sembilan tahun kemudian, saat terbaring sakit di ICU RS MMC, almarhum menulis di selembar kertas (karena tidak bisa bicara akibat harus menggunakan alat bantu pernapasan): "Jangan kecil hati." Lalu dengan tangannya yang masih sulit berkoordinasi dengan keinginannya berkomunikasi, almarhum menulis lagi: "Kita sama-sama siaran."&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_xs69eKlboEg/Rzfj6YnD_aI/AAAAAAAAAGs/s96ICdCTiR8/s1600-h/zainal+tantri.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_xs69eKlboEg/Rzfj6YnD_aI/AAAAAAAAAGs/s96ICdCTiR8/s400/zainal+tantri.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5131820892590177698" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center; color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Bung Zainal (kedua dari kiri)  bersama Inre,&lt;br /&gt;puteri kedua, yang ketika itu masih balita, dalam acara&lt;br /&gt;perkemahan Bengkel Belia ARH tahun 70-an. Berdiri paling kiri:&lt;br /&gt;Iwan Padmadinata, salah satu penyiar Radio ARH 70-an.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, sampai almarhum wafat 30 Agustus 2007, saya belum mengerti apa maksud tulisan-tulisan pendeknya itu. Interpretasi pesan sangat tergantung dari penerimanya. Jadi mudah-mudahan sah saja kalau saya menginterpretasikan tulisan-tulisan pendek almarhum di ICU tadi, sebagai penyemangat bagi saya, bahwa bekerja di radio tidaklah seburuk yang pernah disampaikannya kepada saya. &lt;script&gt; &lt;!-- D(["mb","\u003c/div\&gt;  \u003cdiv align\u003d\"justify\"\&gt;\u003c/div\&gt;  \u003cdiv align\u003d\"justify\"\&gt;\u003c/div\&gt;  \u003cdiv align\u003d\"justify\"\&gt;Uniknya, walau anak-anaknya selalu berusaha dijauhkan dari kemungkinan bekerja di dunia penyiaran, nyatanya 2 dari 3 anaknya pernah &amp;amp; masih bekerja di dunia yang dibenci sekaligus dicintainya itu. Barangkali almarhum mau menyampaikan pada kami, &amp;quot; Biar Mama saja (begitu saya memanggilnya) yang berurusan dengan dunia penyiaran indonesia yang nggak pernah jelas ini&amp;quot;. \u003c/div\&gt;  \u003cdiv align\u003d\"justify\"\&gt;\u003c/div\&gt;  \u003cdiv align\u003d\"justify\"\&gt;\u003c/div\&gt;  \u003cdiv align\u003d\"justify\"\&gt;Usahanya menghalangi putri-putrinya bekerja di dunia penyiaran tidak menghalangi semangatnya membenahi dunia penyiaran dan kebebasan perolehan informasi bagi semua. Tak heran\n beberapa minggu menjelang sakit pun almarhum masih sibuk bertugas keluar kota. Kesibukan yang semasa kecil tidak pernah saya mengerti, &amp;quot;Kenapa Mama sibuk tapi nggak pernah bisa sebanyak uang &amp;amp; sengetop orang lain?&amp;quot;\u003c/div\&gt;  \u003cdiv align\u003d\"justify\"\&gt;\u003c/div\&gt;  \u003cdiv align\u003d\"justify\"\&gt;\u003c/div\&gt;  \u003cdiv align\u003d\"justify\"\&gt;Semasa hidupnya, rasanya banyak yang sudah saya pelajari dari almarhum. Sepeninggalannya, saya justru merasa terlalu banyak yang belum saya pelajari darinya. Sampai hari-hari terakhir hidupnya pun, saya masih tidak tahu dari mana harus memulai mengumpulkan pemikiran-pemikirannya yang tersebar di belasan note book, sebuah laptop yang rusak LCD-nya, ratusan karya tulis, dan sebuah flash disk. \u003c/div\&gt;  \u003cdiv align\u003d\"justify\"\&gt;\u003c/div\&gt;  \u003cdiv align\u003d\"justify\"\&gt;\u003c/div\&gt;  \u003cdiv align\u003d\"justify\"\&gt;Almarhum masih sempat berpesan ke sejumlah sahabatnya untuk melanjutkan perjuangnya yang pernah dimulainya. &amp;quot; Saya bekerja untuk cucu &amp;amp; cicit saya&amp;quot;, demikian salah satu kalimat almarhum yang selalu saya ingat,\n saat berdebat tentang RUU Penyiaran (yang sekarang menjadi UU Penyiaran) dengan seorang lawan bicaranya melalui telepon genggam. \u003c/div\&gt;  \u003cdiv align\u003d\"justify\"\&gt;\u003c/div\&gt;  \u003cdiv align\u003d\"justify\"\&gt;Banyak ilmu almarhum yang belum saya pelajari untuk ketahui. Saya hanya tahu bahwa saya bersyukur menjadi putrinya. ",1] );  //--&gt; &lt;/script&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Uniknya, walau anak-anaknya selalu berusaha dijauhkan dari kemungkinan bekerja di dunia penyiaran, nyatanya 2 dari 3 anaknya pernah &amp;amp; masih bekerja di dunia yang dibenci sekaligus dicintainya itu. Barangkali almarhum mau menyampaikan pada kami, "Biar Mama saja (begitu saya memanggilnya) yang berurusan dengan dunia penyiaran &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; yang &lt;i style=""&gt;nggak&lt;/i&gt; pernah jelas ini." &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Usahanya menghalangi putri-putrinya bekerja di dunia penyiaran, tidak menghalangi semangatnya membenahi dunia penyiaran dan kebebasan perolehan informasi bagi semua. Tak heran beberapa minggu menjelang sakit pun almarhum masih sibuk bertugas keluar &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Kesibukan yang semasa kecil tidak pernah saya mengerti, "Kenapa Mama sibuk tapi nggak pernah bisa sebanyak uang &amp;amp; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sengetop&lt;/span&gt; orang lain?"&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Semasa hidupnya, rasanya banyak yang sudah saya pelajari dari almarhum. Sepeninggalnya, saya justru merasa terlalu banyak yang belum saya pelajari darinya. Sampai hari-hari terakhir hidupnya pun, saya masih tidak tahu dari mana harus memulai mengumpulkan pemikiran-pemikirannya yang tersebar di belasan &lt;i style=""&gt;note book&lt;/i&gt;, sebuah &lt;i style=""&gt;laptop&lt;/i&gt; yang rusak LCD-nya, ratusan karya tulis, dan sebuah &lt;i style=""&gt;flash disk&lt;/i&gt;. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Almarhum masih sempat berpesan ke sejumlah sahabatnya untuk melanjutkan perjuangnya yang pernah dimulainya. " Saya bekerja untuk cucu &amp;amp; cicit saya," demikian salah satu kalimat almarhum yang selalu saya ingat, saat berdebat tentang RUU Penyiaran (yang sekarang menjadi UU Penyiaran) dengan seorang lawan bicaranya melalui telepon genggam. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Banyak ilmu almarhum yang belum saya pelajari untuk ketahui. Saya hanya tahu bahwa saya bersyukur menjadi putrinya.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; font-style: italic;"&gt;[Tulisan ini, juga dapat dilihat di blog penulis: &lt;a href="http://www.serampangan.bermedia.blogspot.com/"&gt;http://www.serampangan-bermedia.blogspot.com&lt;/a&gt;]&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 204, 204);"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 51);"&gt;[Tantri Suryokusumo, adalah putri bungsu almarhum Zainal Abidin Suryokusumo, yang juga berprofesi sebagai penyiar radio (antara lain radio Female) mengikuti jejak ayahnya. Selain itu ia juga mengajar di beberapa perguruan tinggi swasta di Jakarta, di antaranya London School of Public Relations]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;script&gt; &lt;!-- D(["mb","\u003c/div\&gt;  \u003cdiv\&gt;\u003c/div\&gt;  \u003cdiv style\u003d\"clear:both\"\&gt; \u003c/div\&gt;  \u003cdiv style\u003d\"clear:both\"\&gt;\u003cem\&gt;*Dikutip dari \u003c/em\&gt;\u003ca href\u003d\"http://www.serampangan-bermedia.blogspot.com\" target\u003d\"_blank\" onclick\u003d\"return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\&gt;\u003cem\&gt;www.serampangan-bermedia\u003cWBR\&gt;.blogspot.com\u003c/em\&gt;\u003c/a\&gt;\u003c/div\&gt;\u003c/div\&gt;",1] ); D(["mb","\u003cspan class\u003dad\&gt;\u003cp\&gt; ______________________________\u003cWBR\&gt;____________________\u003cbr\&gt;Do You Yahoo!?\u003cbr\&gt;Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around \u003cbr\&gt;\u003ca href\u003d\"http://mail.yahoo.com\" target\u003d\"_blank\" onclick\u003d\"return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\&gt;http://mail.yahoo.com\u003c/a\&gt; \u003c/p\&gt;\u003c/span\&gt;",1] ); D(["mb","\u003c/div\&gt;",0] ); D(["ce"]);  //--&gt; &lt;/script&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 204, 204);" class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 204, 204);" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1417497512382010708-9213589416143286508?l=bungdaktur-arh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='enclosure' type='' href='http://www.serampangan-bermedia.blogspot.com' length='0'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungdaktur-arh.blogspot.com/feeds/9213589416143286508/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1417497512382010708&amp;postID=9213589416143286508' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1417497512382010708/posts/default/9213589416143286508'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1417497512382010708/posts/default/9213589416143286508'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungdaktur-arh.blogspot.com/2007/11/lanjutkan-perjuangan.html' title='Lanjutkan Perjuangan'/><author><name>Billy Soemawisastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13333083922610946230</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_xs69eKlboEg/SKw-Y3SIYyI/AAAAAAAAAK4/fb6e7KbWWDI/S220/bang+billy+3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_xs69eKlboEg/Rzfj6YnD_aI/AAAAAAAAAGs/s96ICdCTiR8/s72-c/zainal+tantri.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1417497512382010708.post-663284249435303742</id><published>2007-11-07T18:31:00.005+07:00</published><updated>2008-09-21T01:54:24.686+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Sepotong Kenangan yang Menggugat</title><content type='html'>&lt;a style="color: rgb(51, 0, 51);" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_xs69eKlboEg/RzKwTonD_MI/AAAAAAAAAEM/7z881VuKd68/s1600-h/Billy.8.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5130356776893676738" style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; width: 171px; cursor: pointer; height: 140px;" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_xs69eKlboEg/RzKwTonD_MI/AAAAAAAAAEM/7z881VuKd68/s200/Billy.8.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 0, 51);"&gt;Oleh: Arthur J. Horoni&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:100%;" &gt;&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:100%;"  &gt;Pesan–pesan singkat (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style="font-family: georgia;"&gt;sms&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:100%;"  &gt;) Mas Zen sering mampir ke HP saya. Isinya berupa gugatan terhadap situasi tanah air. Naga-naganya, saat sedang sumpek, Mas Zen ingat saya, lantas mengisahkan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style="font-family: georgia;"&gt;uneg-uneg&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:100%;"  &gt;nya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 255, 255);font-family:georgia;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Yang sempat saya catat, beberapa gugatan dia terhadap cara pemerintah menangani bencana gempa bumi dan tsunami Aceh 2004, yang pada bulan-bulan pertama terkesan &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;centang-perenang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Ini beberapa petikan SMS Mas Zen:&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;li style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:georgia;font-size:100%;"  &gt;Bencana Aceh, dua potret paling telanjang tentang: K&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;etimpangan redistribusi kekayaan nasional. NAD seperti wilayah luar Jawa: papah infrastruktur, jalan, telkom, rumah sakit, dan lain-lain. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:100%;" &gt;Ketidakbecusan birokrasi pemerintah atasi situasi darurat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="color: rgb(0, 51, 51);"&gt;&lt;div  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Saking lamanya dibohongi penguasa, mayoritas kita ibarat kelamaan di WC, &lt;/span&gt;&lt;b style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;nggak lagi kecium bau busuk&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;. Civil Society &lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;memang harus berbuat.&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 51);"&gt;Elit bangsa ini &lt;/span&gt;&lt;b style="color: rgb(0, 51, 51);"&gt;&lt;i&gt;pinter ngomong walau sering nggak masuk akal, tapi nggak pinter bekerja&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i style="color: rgb(0, 51, 51);"&gt;. &lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 51);"&gt;Pasnya barangkali elite bangsa &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 51);"&gt;pinter ngeles&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;div  style="text-align: left;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);font-size:100%;" &gt;&lt;i&gt;Gue khawatir,&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;kesemrawutan kerja birokrasi di &lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;ground zero,&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt; dalam keadaan normal aja kacau, berakibat terlantarkan korban yang selamat dan relawan, bersumber dari kompetisi para elit penguasa.&lt;/span&gt; &lt;b style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Cuma kebo kali yang nggak bisa liat realitas&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; itu &lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;di daerah bencana.&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 255, 255);"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Selagi pejabat-pejabat RI tidur &lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;pules&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;, Inggris &lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;bikin &lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;pos info kemanusiaan di Banda Aceh. &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Bisa-bisanya ya orang-orang yang selalu atas nama tim merah-putih tuh, gini ari masih ngorok.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Menanggapi &lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;sms&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; Mas Zen, saya menulis, birokrasi kita pada ketularan penyakit &lt;/span&gt;&lt;b style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;PDIPP&lt;/b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; yakni &lt;/span&gt;&lt;b style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Penurunan Daya Ingat, Pendengaran dan Penglihatan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;, maka &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;u&gt;S&lt;/u&gt;emakin &lt;u&gt;B&lt;/u&gt;anyak &lt;u&gt;Y&lt;/u&gt;ang &lt;u&gt;J&lt;/u&gt;adi &lt;u&gt;K&lt;/u&gt;orban ***&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="color: rgb(51, 0, 51);font-family:arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1417497512382010708-663284249435303742?l=bungdaktur-arh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungdaktur-arh.blogspot.com/feeds/663284249435303742/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1417497512382010708&amp;postID=663284249435303742' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1417497512382010708/posts/default/663284249435303742'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1417497512382010708/posts/default/663284249435303742'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungdaktur-arh.blogspot.com/2007/11/sepotong-kenangan-yang-menggugat.html' title='Sepotong Kenangan yang Menggugat'/><author><name>Billy Soemawisastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13333083922610946230</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_xs69eKlboEg/SKw-Y3SIYyI/AAAAAAAAAK4/fb6e7KbWWDI/S220/bang+billy+3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_xs69eKlboEg/RzKwTonD_MI/AAAAAAAAAEM/7z881VuKd68/s72-c/Billy.8.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1417497512382010708.post-3399537533355858334</id><published>2007-11-05T12:44:00.003+07:00</published><updated>2008-09-21T01:55:59.973+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='In Memoriam'/><title type='text'>Bung Zainal yang Tak Kenal Lelah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_xs69eKlboEg/RzmEIInD_hI/AAAAAAAAAII/68XwDy7LYSU/s1600-h/bengkel+n+arh+ada+uni+ira+dan+zen.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_xs69eKlboEg/RzmEIInD_hI/AAAAAAAAAII/68XwDy7LYSU/s400/bengkel+n+arh+ada+uni+ira+dan+zen.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5132278525650533906" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:78%;" &gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;Keterangan Foto:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Bung Zainal (berdiri nomor 3 dari kiri) bersama kru Radio ARH&lt;/span&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:78%;" &gt;dan anggota Bengkel Belia ARH. Tampak pula Uni Ira, isteri Bung  Zainal (berdiri &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:78%;" &gt; paling kanan). (Foto: Koleksi Arthur JH)                 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:78%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Oleh: Zukifli Ibrahim&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Bung Zainal Abidin Suryokusumo, adalah seorang pekerja keras. Ini dibuktikannya sejak hari-hari pertama Radio ARH (Arief Rachman Hakim) berdiri. Setiap hari, sejak jam enam pagi, Bung Zainal sudah “bercuap-cuap di udara” menyapa para pendengar dengan panggilan: “Sobat-sobat pendengar di wilayah &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;”. Lalu mengingatkan para pelajar dan mahasiswa, apakah sudah menyiapkan alat-alat tulis dan bahan-bahan pelajaran untuk hari itu? Kepada para pendengar yang sudah bekerja, ia juga tak pernah lupa mengingatkan mereka agar segera menyiapkan alat-alat kerja mereka. “Sementara waktu sudah menunjukkan pukul &lt;st1:time minute="30" hour="18"&gt;06:30&lt;/st1:time&gt; WIB, ayo bangun dan bersemangat untuk melaksanakan tugas masing-masing, jangan sampai terlambat,” ujarnya, setiap pagi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Yang bertugas setiap pagi di Radio ARH ketika itu, adalah “2 Z”. Yakni, Zainal Abidin Suryokusumo dan Zulkifli Ibrahim (Zul). Jika Bung Zainal siaran antara jam &lt;st1:time minute="0" hour="18"&gt;6:00-07:00&lt;/st1:time&gt;, maka yang menjadi operatornya adalah Zul. Sedangkan antara jam &lt;st1:time minute="0" hour="19"&gt;07:00-08:00&lt;/st1:time&gt;, giliran Zul yang siaran, dan gantian Bung Zainal yang menjadi operatornya&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Setiap pagi, Bung Zainal dibekali isterinya, Ira, roti diolesi mentega dan telur mata sapi. Juga satu termos penuh air panas, yang digunakannya untuk menyeduh teh atau kopi, sambil siaran. Sang penyiar yang satu ini suka sekali kopi kental, yang diseduhnya dalam sebuah mug berukuran besar, cukup sampai siang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Jam 08:00, Bung Zainal bersuara lagi di depan mikrofon, membacakan Warta Berita Dunia, yang bahan-bahannya dihimpun dari berbagai sumber, termasuk BBC London, Radio Australia dan Voice of America (VOA). Bung Zainal mengolahnya, malam hari,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menjadi berita khas Radio ARH. Banyak pendengar ketika itu menilai, berita-berita Radio ARH lebih &lt;i&gt;up to date&lt;/i&gt; daripada berita Radio Republik Indonesia (RRI).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Berita yang juga diolah oleh Bung Zainal adalah Berita Ekonomi dan Industri, yang disiarkan setiap jam 11 siang. Dibantu oleh Syahrial Muluk Nasution, yang bersama-sama Bung Zainal pernah berkiprah di Radio Ragam, Jakarta Selatan, milik Laskar Ampera Arief Rachman Hakim Rayon Panjaitan. Dengan daerah cakupan: Kebayoran Baru dan Kebayoran Lama. Bung Zainal juga membuat &lt;i&gt;features&lt;/i&gt; untuk siaran pukul &lt;st1:time minute="0" hour="17"&gt;17:00&lt;/st1:time&gt; setiap harinya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Siaran Pendidikan Pemuda TITIK TEMU.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Tahun 1974, bekerjasama dengan LP3ES (Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Pengembangan Ekonomi-Sosial), Radio ARH meluncurkan Siaran Pendidikan Pemuda (SPP) TITIK TEMU, berisi &lt;i&gt;features&lt;/i&gt; dan reportase tentang berbagai masalah ekonomi dan sosial di seluruh &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, termasuk kultur masyarakatnya. Untuk itu para redaktur SPP pun mewawancarai berbagai narasumber dari beragam lapisan, mulai dari para petani dan buruh di daerah, sampai &lt;i&gt;elite&lt;/i&gt; nasional.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Pada awalnya, TITIK TEMU lebih mengedepankan persoalan-persoalan dari propinsi ke propinsi. Setiap propinsi dibahas selama satu bulan siaran, tentu saja dengan berbagai aspeknya, seperti kultur dan kekayaan alamnya. Siarannya setiap hari, Senin sampai Sabtu, pagi dan malam (ulangan).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Dalam perkembangan berikutnya, isi TITIK TEMU pun semakin beragam dengan berbagai rubriknya, seperti: Penampilan Orang Musik (bahasan tentang perkembangan musik pop &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;), Ufuk Budaya (features tentang seni-budaya), Ilmu Pengetahuan Alam, dan Kaki Langit (rubrik sastra). Di Siaran Pendidikan Pemuda ini bergabung sejumlah wartawan, antara lain Tarman Azzam (sekarang ketua Umum PWI - Persatuan Wartawan Indonesia - Pusat), Masmimar Mangiang (kini Pemimpin Redaksi salah satu harian di Ibukota), Rahmat Ismail (kini pemilik Majalah Sabili), Fachri Muhammad, yang terkenal dengan nama &lt;i&gt;on air&lt;/i&gt;-nya: Mohammad Akbar (kini pengusaha perikalanan) Edward Soaloon Simanjuntak (almarhum, terakhir redaktur Majalah Prisma), Iwan Padmadinata (kini penasihat Pengurus Daerah PRSSNI Jawa Barat), Paulus “Kelik” Widiyanto (kini fungsionaris PDI Perjuangan), Arthur John Horoni (kini aktivis advokasi perburuhan di Sumatera Utara, dan aktivis Yakoma PGI –Yayasan Komunikasi Massa Persatuan Gereja Indonesia) dan Billy Soemawisastra (kini di Liputan 6 SCTV).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Metode yang diterapkan dalam mengelola dan mengudarakan SPP Titik Temu ini, merupakan hasil studi banding Bung Zainal Abidin Suryokusumo, di Jerman. Ketika itu Bung Zainal dikirim ke untuk magang di Radio Deutsche Welle, Jerman, sebagai hasil kerja sama lembaga swadaya masyarakat FNS (Friederich Neumann Stiftung) dengan LP3ES.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Di dalam Titik Temu tersebut, Bung Zainal juga membuat rubrik konsultasi yang dinamakan Kontak Pendengar. Acara ini membahas surat-surat dari pendengar, yang menanyakan berbagai macam permasalahan, mulai dari masalah pendidikan, hukum, sampai rumah tangga. Berkat acara inilah, Bung Zainal kemudian dikenal dengan julukan Bung Daktur, dan tersohor dengan sapaannya yang hangat: “Bung Daktur di sini, Hallooouuu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Untuk menjawab surat-surat tersebut, Bung Zainal terlebih dulu harus bekerja keras membuka buku-bukunya termasuk sejumlah ensiklopedi yang tersedia di studio, dan berdiskusi dengan teman-temannya di Radio ARH. Bung Zainal tak pernah malu bertanya untuk soal-soal yang kurang dikuasainya. Untuk masalah-masalah keagamaan, misalnya, ia akan bertanya kepada Amir Syarifuddin Nawawi, Nasihin Hasan atau Samian El-Faizi, yang merupakan jebolan dari IAIN Jakarta itu. Karena mampu menjawab semua pertanyaan di Kontak Pendengar, banyak pendengar menjuluki Bung Zainal sebagai professor.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Radio ARH pada waktu itu, mempunyai kelompok-kelompok pendengar di berbagai wilayah &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Setiap enam bulan sekali, para anggota kelompok-kelompok pendengar ini berkumpul di Taman Ismail Marzuki (TIM) untuk membicarakan kelemahan-kelemahan SPP, dan apa saja yang harus diperbaiki. Pada akhirnya, kelompok-kelompok pendengar ini digabungkan dalam satu organisasi yang disebut Bengkel Belia ARH, dan Zainal Suryokusumo, menjadi pembina utamanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Selain SPP Titik Temu, Radio ARH juga memiliki sejumlah program siaran lainnya, termasuk siaran-siaran kedaerahan, dengan penyiar yang berlainan. Dan, setiap penyiar Radio ARH dituntut untuk mempunyai &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; sendiri, tidak boleh meniru orang lain, apalagi meniru penyiar radio lain. Termasuk, pembaca berita, tidak boleh meniru &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; penyiar RRI (karena selain Radio ARH, hanya RRI, radio yang menyiarkan berita ketika itu).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Itulah sekelumit kiprah Bung Zainal di Radio ARH, yang membuktikan bahwa sosok yang satu ini memang tak pernah kenal lelah dan tak kenal menyerah. Sampai akhir hanyatnya, ia aktif memperjuangkan hak-hak wartawan dan penyiar. Ia ikut menyusun Rancangan Undang-Undang Penyiaran dan Undang-Undang Pers&lt;span style="color: rgb(102, 204, 204);"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:85%;" &gt;Zulkifli Ibrahim&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;,&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;i&gt;adalah mantan penyiar Radio ARH, anggota Laskar Ampera Arief Rachman Hakim (ARH), yang sempat menjadi Penanggung Jawab Radio ARH dan Ketua Yayasan Radio ARH, setelah radio ini berganti kepemilikan (berada di bawah pengelolaan manajemen Grup Bimantara). Kini ia aktif sebagai Kepala Biro Daerah Depok, &lt;/i&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;i&gt;Surat&lt;/i&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;i&gt; Kabar Fajar Metro.]&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1417497512382010708-3399537533355858334?l=bungdaktur-arh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungdaktur-arh.blogspot.com/feeds/3399537533355858334/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1417497512382010708&amp;postID=3399537533355858334' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1417497512382010708/posts/default/3399537533355858334'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1417497512382010708/posts/default/3399537533355858334'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungdaktur-arh.blogspot.com/2007/11/bung-zainal-yang-tak-kenal-lelah.html' title='Bung Zainal yang Tak Kenal Lelah'/><author><name>Billy Soemawisastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13333083922610946230</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_xs69eKlboEg/SKw-Y3SIYyI/AAAAAAAAAK4/fb6e7KbWWDI/S220/bang+billy+3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_xs69eKlboEg/RzmEIInD_hI/AAAAAAAAAII/68XwDy7LYSU/s72-c/bengkel+n+arh+ada+uni+ira+dan+zen.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1417497512382010708.post-3296173815913101461</id><published>2007-11-05T12:28:00.001+07:00</published><updated>2008-06-24T00:21:24.998+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ihwal'/><title type='text'>Radio ARH, Riwayatmu Dulu</title><content type='html'>&lt;a style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_xs69eKlboEg/RzmBHYnD_gI/AAAAAAAAAIA/Cg2Z_HqYDqE/s1600-h/Alisadikin.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_xs69eKlboEg/RzmBHYnD_gI/AAAAAAAAAIA/Cg2Z_HqYDqE/s400/Alisadikin.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5132275214230748674" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;                                                                       &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Keterangan Foto: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;                                                                   Ali Sadikin sedang menerima plakat Radio ARH, yang diserahkan oleh Zainal Abidin Suryokusumo, selaku penanggung Jawab Radio ARH, sebagai kenang-kenangan atas berakhirnya masa jabatan Bang Ali sebagai Gubernur KDKI Jakarta. Berdiri paling kanan: Sandra Paat, salah seorang penyiar Radio ARH. Foto ini diambil pada sekitar tahun 1977. (Foto: Koleksi Zul).            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Oleh: Zulkifli Ibrahim&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Kurun 1996-1969 (pasca keruntuhan Orde Lama), di Daerah Khusus (dulu: Chusus) Ibukota Jakarta, bermunculan radio-radio siaran (amatir) yang jumlahnya cukup fantastis: sekitar 700 radio. Sebagian besar merupakan milik perorangan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;Kebutuhan akan komunikasi dan penyebaran informasi secara cepat, merupakan salah satu faktor yang mendorong tumbuhnya radio-radio, yang bagaikan cendawan di musim hujan itu. Media informasi seperti &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; kabar dan majalah, dianggap tidak efisien dan efektif lagi saat itu. Ditambah lagi dengan eforia kebebasan berekspresi pasca perjuangan 1966, yang membangkitkan apreasi masyarakat terhadap berita-berita keseharian masyarakat yang &lt;i&gt;up to date&lt;/i&gt;. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;Hanya dengan cara mengubah fungsi radio listrik, yang biasanya hanya dipergunakan sebagai radio penerima (&lt;i&gt;receiver&lt;/i&gt;) menjadi radio siaran (&lt;i&gt;transfer&lt;/i&gt;), maka muncullah radio-radio amatir tersebut. Proses pembuatannya memang tergolong sederhanya. Pertama, menyambungkan input amplifier yang terdapat pada peralatan pemutar musik/piringan hitam (yang saat itu populer dengan sebutan &lt;i&gt;pick up&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;gramophone&lt;/i&gt;), dilengkapi perangkat pemutar sekaligus perekam lagu (&lt;i&gt;tape recorder&lt;/i&gt;) yang menggunakan pita magnetik lebar dan panjang, serta penggulung pita (&lt;i&gt;reel&lt;/i&gt;) berukuran besar. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;Kemudian, dibuat output yang dihubungkan ke antena dengan tiang sederhana, terkadang hanya bambu, sebagai antena pemancar. Karena sifatnya yang tidak memiliki izin resmi inilah, radio-radio tersebut dijuluki Radio Siaran Amatir. Satu-satunya radio yang memiliki izin resmi saat itu, hanyalah Radio Republik Indonesia (RRI).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;Keberadaan radio amatir yang sangat banyak itu, tanpa disadari telah mengganggu frekuensi-frekuensi khusus yang biasa digunakan instansi-instansi pemerintah, seperti instansi telekomunikasi, penerbangan dan perkapalan. Sehingga perlu dilakukan penataan dan penertiban.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;Akhirnya, Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota, Ali Sadikin, bersama Kementrian Perhubungan dan Instansi Telekomunikasi, melakukan penertiban dengan menerbitkan sejumlah peraturan. Radio-radio amatir yang tetap ingin mengudara dan didengar khalayak, harus memiliki: izin frekuensi; badan hukum dan struktur organisasi; penanggung jawab siaran; kepala studio; bangunan permanen dengan pembagian ruangan untuk siaran; pemancar dan diskotik; serta lahan yang memadai untuk membangun menara antena pemancar (&lt;i&gt;tower&lt;/i&gt;).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia;"&gt;        &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Embrio Radio ARH.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 204, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Dari sekian banyak radio amatir yang terjaring penertiban itu, terdapat pula beberapa radio&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;sejenis yang  dikelola oleh para aktivis mahasiswa 1966, yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dan Laskar Ampera Arief Rachman Hakim (ARH). (Sebagai cacatan, nama Arief Rachman Hakim diambil dari nama aktivis mahasiswa Universitas Indonesia tingkat 6, yang gugur dalam aksi menentang Soekarno di depan istana presiden, dan Ampera adalah singkatan dari Amanat Penderitaan Rakyat, slogan perjuangan 1966).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;Laskar Ampera ARH, memiliki tujuh markas rayon dan satu markas pusat. Masing-masing markas rayon menggunakan nama Pahlawan Revolusi yang gugur dalam peristiwa G30S/PKI, tahun 1965. Ketujuh markas rayon tersebut tersebar di seluruh wilayah &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, dan masing-masing memiliki radio amatir. Selain juga, markas pusat. Sehingga secara keseluruhan, Laskar Ampera ARH memiliki delapan radio amatir.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;Markas Pusat, yang beralamat di jalan Kramat Raya nomor 97, memiliki Radio Siaran Amatir dengan nama AK-97; Yon S. Parman (Gunung Sahari, Senen, Matraman) dengan Radio Siaran Amatir; RC-77; Yon Sutojo (Jatinegara, Kampung Melayu, Cawang) Radio Siaran Amatir:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sutojo; Yon Harjono (Roxy dan Grogol) Radio Siaran Amatir: RH-66 ; Yon Soeprapto (Pasar Baru, Jalan Kartini) Radio Siaran Amatir: Swanara; Yon A. Yani (Menteng, Setia Budhi) Radio Siaran Amatir: A. Yani; Yon Tendean (Tanjung Priok) Radio Siaran Amatir: Cora; dan Yon Panjaitan (Kebayoran) Radio Siaran Amatir: Cora.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;Radio-radio amatir ini disarankan untuk bergabung (&lt;i&gt;merger&lt;/i&gt;) menjadi satu radio, dengan satu paket izin penyiaran. Walhasil, tujuh dari delapan radio Laskar Ampera ARH ini, bersedia bergabung di bawah satu bendera: Radio ARH. Selain Radio ARH, ada sejumlah radio perorangan yang juga memperoleh izin penyiaran saat itu, antara lain Radio Draba, Cakrawala, Ramako, El-Shinta dan lain sebagainya. Kesemua radio yang mendapat izin penyiaran ini kemudian menjadi radio komersial, dengan sebutan Radio Siaran Swasta Niaga (belakangan diubah menjadi Radio Siaran Swasta Nasional).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;Setelah resmi menjadi Radio ARH, Gubernur Ali Sadikin menghibahkan sebuah bangunan di komplek Taman Ismail Marzuki (TIM), jalan Cikini Raya 73 Jakarta Pusat, untuk dijadikan pusat kegiatan penyiaran radio ARH, sebagai salah satu bentuk penghargaan untuk Laskar Ampera ARH. Sejak itu ARH pun tampil menjadi radio yang sangat diperhitungkan, karena memiliki keunikan tersendiri, dan setiap penyiar Radio ARH, diwajibkan untuk mengikuti program pendidikan penyiaran Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI).&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;Kini, setelah Radio ARH berganti kepemilikan, bangunan (untuk tidak menyebut gedung, karena terlalu kecil – Red) eks-studio Radio ARH di komplek TIM, difungsikan sebagai Sekretariat Ikatan Keluarga Besar Laskar Ampera Arief Rachman Hakim (IKBLA-ARH).&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1417497512382010708-3296173815913101461?l=bungdaktur-arh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungdaktur-arh.blogspot.com/feeds/3296173815913101461/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1417497512382010708&amp;postID=3296173815913101461' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1417497512382010708/posts/default/3296173815913101461'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1417497512382010708/posts/default/3296173815913101461'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungdaktur-arh.blogspot.com/2007/11/radio-arh-riwayatmu-dulu.html' title='Radio ARH, Riwayatmu Dulu'/><author><name>Billy Soemawisastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13333083922610946230</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_xs69eKlboEg/SKw-Y3SIYyI/AAAAAAAAAK4/fb6e7KbWWDI/S220/bang+billy+3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_xs69eKlboEg/RzmBHYnD_gI/AAAAAAAAAIA/Cg2Z_HqYDqE/s72-c/Alisadikin.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1417497512382010708.post-5340684501491010992</id><published>2007-11-01T14:21:00.003+07:00</published><updated>2008-09-21T01:15:47.705+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ihwal'/><title type='text'>Siapakah Bung Daktur ARH?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_xs69eKlboEg/RzJmjInD_LI/AAAAAAAAAEE/ugx_L9lIDuE/s1600-h/ZAS1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_xs69eKlboEg/RzJmjInD_LI/AAAAAAAAAEE/ugx_L9lIDuE/s200/ZAS1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5130275679321193650" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;          &lt;span style="color: rgb(51, 0, 51);font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Billy Soemawisastra &amp;amp; Tantri Suryokusumo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bung Daktur adalah nama julukan "on air" Zainal Abidin Suryokusumo (ZAS),  yang selama dekade 70-an dan 80-an, mengasuh rubrik "Kontak Pendengar" Siaran Pendidikan Pemuda TITIK-TEMU Radio ARH (Arief Rachman Hakim) sekaligus penanggung jawab radio swasta tersebut. Setiap hari (Senin s/d Jum'at) pagi dan malam (siaran ulangan) Bung Daktur (ditemani Atty Nurly) menjawab berbagai pertanyaan pemirsa, mulai dari soal-soal sosial-kemasyarakatan, sampai yang sifatnya konsultasi pribadi. Ratusan surat diterima Bung Daktur setiap harinya, hingga si Bung pun nyaris kewalahan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 1ex; color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;div&gt;&lt;p  align="justify" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Tentu saja bukan cuma itu peran ZAS. Ia juga aktif sebagai Pembina Utama (istilahnya: Datuk) Bengkel Belia ARH, kelompok anak muda putus sekolah, yang disalurkannya melalui berbagai kegiatan kreatif. Di luar Radio ARH, ZAS tak pernah lelah memotivasi para pekerja &lt;span style="font-style: italic;"&gt;broadcast&lt;/span&gt; (radio siaran swasta nasional) baik sebagai pengurus PRSSNI (Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional), anggota Dewan Pers maupun sebagai&lt;span style="font-style: italic;"&gt; trainer&lt;/span&gt; senior. Kegiatan ini terus dilakukannya, bahkan setelah ia tak lagi memimpin Radio ARH (yang belakangan berganti pemilik).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  align="justify" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Mantan aktivis KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) dan Laskar Ampera Arief Rachman Hakim (ARH) ini, pernah pula selama beberapa tahun menjadi Sekretaris Jenderal (Sekjen) Fosko '66 (Forum Komunikasi Angkatan '66). Namun kemudian mengundurkan diri dari organisasi ini, karena rekan-rekan seperjuangannya (antara lain Fahmi Idris, Ekky Sharuddin, Louis Wangge) bersepakat membawa Fosko '66 ke ranah politik. Malahan, tak lama kemudian, Laskah ARH yang dicintainya bergabung dengan "mesin politik" terbesar saat itu: Golkar.  ZAS, yang kurang suka dengan kegiatan politik praktis itu pun semakin "membenamkan" diri ke dalam berbagai kegiatan sosial dan pendidikan keradioan, sampai akhir hayatnya.  (Lihat: Mas Zen Sang Guru Pembebasan)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="font-weight: bold;font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Bermula dari Radio Bawah Tanah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 12pt 0cm; text-align: justify; line-height: 14.4pt; color: rgb(51, 0, 51);font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Zainal Abidin  Suryokusumo, lahir di Bondowoso, 25 Mei 1939, namun semenjak masa kanak-kanak sudah tinggal di Jakarta, dan meraih Sarjana Muda di FHPM/IPK UI, pada tahun 1968. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 12pt 0cm; text-align: justify; line-height: 14.4pt; color: rgb(51, 0, 51);font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pelatihan-pelatihan/studi banding (&lt;i&gt;comparative study)&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang pernah diikutinya adalah: 1) Jurnalistik, pada Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia/IPMI, 1967-1969, dari tingkat dasar hingga TOT; 2) Job Training Programming Pendidikan untuk Pemuda melalui Radio, di stasiun-stasiun Radio Publik Republik Federasi Jerman; WDR, HR, SFB dan RIAS, selama musim panas 1974; 3) Pemasaran; pada Grup Studi Periklanan, 1976-1978; 4) Studi Banding &lt;i&gt;(comparative study)&lt;/i&gt; perkembangan Penyiaran Komersial di Filipina, 1996; 5). Studi Banding&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i&gt;(comparative study) &lt;/i&gt;Sistem Penyiaran Swedia dan Inggris, atas undangan pemerintah kedua negara, musim semi tahun 2000.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="color: rgb(51, 0, 51);font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kariernya di dunia radio  siaran, bermula dari masa pergerakan mahasiswa 1966, dengan mendirikan  radio bawah tanah (amatir). Dilanjutkan dengan mendirikan Radio Siaran Komersial  ARH, pada tahun 1968. Menjadi Project Officer Radio Pendidikan Pemuda  LP3ES, 1973-1975. Pada tahun 1993, membangun Jaringan Radio – Anggit  Radio Nusantara – dengan 40 stasiun afiliasi, yang tersebar dari Sumatera  Utara hingga Jawa Timur. Pada periode 1974  sampai dengan 2005,  ikut membidani kelahiran sejumlah organisasi/LSM, yang bergerak dibidang  penyiaran, seperti Persatuan Radio Siaran Swasta NasionaI Indonesia/PRSSNI,  Masyarakat Pers dan Penyiaran Indonesia/MPPI, Jaringan Radio Pemantau  pemilu/JRPP, Jaringan Radio Komunitas Indonesia/JRKI, Lembaga Studi  Komunikasi Untuk Demokrasi/ LESKUD dan Masyarakat Komunikasi Indonesia/MKI  Surabaya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="color: rgb(51, 0, 51);font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Terpilih sebagai anggota  Dewan Pers, periode 2000-2003. Terhitung dari tahun 1976 hingga sekarang,  menjadi trainer dan konsultan untuk programme development dan jurnalistik,  seperti Siaran Pedesaan RRI se Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, PRSSNI,  Internews, UNESCO, JRKI, JRPP dan C For VISI/EU. Antara tahun 1997-2002,  menjadi drafter Undang-undang Penyiaran PRSSNI/MPPI, yang kemudian diambil-alih  menjadi materi utama usul inisitaif DPR, bagi penyusunan Undang-undang  No 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran.          &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="color: rgb(51, 0, 51);font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Editor "Buku Panduan  Siaran Pertanian RRI", Deppen, 1976. Kontributor buku-buku bertajuk:  "Membangun Sistem Penyiaran yang Demokratis di Indonesia"-  IMLPC, 2003, serta "Radio dan Pemilu 2004", CETRO-JRPP-FNS,  2004.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="color: rgb(51, 0, 51);font-family:georgia;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kamis, 30 Agustus 2007,  Zainal Abidin Suryokusumo menghadap Sang Maha Kuasa, setelah berjuang berbulan-bulan melawan penyakit yang cukup parah, dengan semangat hidup yang tak kenal menyerah.  Meninggalkan seorang isteri (Irajati Moedahar, SH) dan tiga orang putri: Saraswati (Atty); Medina Indreswari (Inre); dan Tribuana Tungga Dewi (Tantri); serta tiga orang cucu: Mochammad Ramadhan Salehoddin,  Zahra Ardani, Makkiya Suryokusumo Yusuf.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1417497512382010708-5340684501491010992?l=bungdaktur-arh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungdaktur-arh.blogspot.com/feeds/5340684501491010992/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1417497512382010708&amp;postID=5340684501491010992' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1417497512382010708/posts/default/5340684501491010992'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1417497512382010708/posts/default/5340684501491010992'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungdaktur-arh.blogspot.com/2007/11/profil-almarhum-bung-daktur-zainal.html' title='Siapakah Bung Daktur ARH?'/><author><name>Billy Soemawisastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13333083922610946230</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_xs69eKlboEg/SKw-Y3SIYyI/AAAAAAAAAK4/fb6e7KbWWDI/S220/bang+billy+3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_xs69eKlboEg/RzJmjInD_LI/AAAAAAAAAEE/ugx_L9lIDuE/s72-c/ZAS1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1417497512382010708.post-6775374816538431428</id><published>2007-11-01T12:37:00.002+07:00</published><updated>2008-09-21T01:43:47.256+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='In Memoriam'/><title type='text'>Mas Zen Sang Guru Pembebasan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; font-family: georgia; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_xs69eKlboEg/RysDdlzc1PI/AAAAAAAAAAk/0-vFfBRXpro/s1600-h/ARTHUR+FAHMI+ZAS.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_xs69eKlboEg/RysDdlzc1PI/AAAAAAAAAAk/0-vFfBRXpro/s320/ARTHUR+FAHMI+ZAS.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5128196407590442226" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:78%;" &gt;Keterangan Gambar (Dari Kiri ke Kanan): Arthur J. Horoni,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:78%;" &gt;Fahmi Idris, Zainal A. Suryokusumo dalam acara Latihan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:78%;" &gt;Dasar Kepemimpinan Bengkel Belia ARH, Bogor, 1981.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia; font-style: italic;"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 51); font-weight: bold;"&gt;Oleh: Arthur J. Horoni&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" face="georgia" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;i style=""&gt;Belajar sama-sama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Belajar sama-sama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kerja sama-sama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia;"&gt;&lt;i style=""&gt;Semua orang itu guru.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Alam raya sekolahku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Sejahteralah bangsaku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia;"&gt;Lirik lagu berjudul: “Sama-sama”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang sering disenandungkan anak-anak jalanan itu, afdol betul untuk melukiskan suasana “pembelajaran” di Radio ARH anno-1973-1983, saat saya menjadi salah-seorang pekerja di gelombang “tempat anak muda” nangkring itu. Di tempat ini, Mas Zen, Zainal Abidin Suryokusumo, adalah guru, dan Radio ARH merupakan “akademi rakyat” yang berpikir merdeka, walau gedungnya sumpek.&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia;"&gt;Di sini, para mantan Laskar Ampera Arief Rachman Hakim (ARH), mahasiswa DO, anak-anak gang putus sekolah, wartawan subversif yang korannya diberangus Soeharto, seniman tanggung, kawula muda daerah korban urbanisasi, preman picisan Pasar Cikini, Godila, Kalpas, Bonsir, Tanjung Priok, Kampung Melayu, Menteng Wadas dan Bambu Apus, bisa kompak gegap-gempita. Perekatnya adalah Mas Zen, guru kaum DO, pemuda putus sekolah yang menghuni gang-gang kumuh &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; saat itu, yang selalu disapanya dengan empati: Hallooouuu, melalui rubrik “Kontak Pendengar” Titik-Temu Radio ARH, dengan nama &lt;i style=""&gt;on air&lt;/i&gt;: Bung Daktur. Suara baritonnya yang khas, menghangati, mengakrabi. Ia bicara antara subyek dengan subyek. Berbicara dengan pribadi dalam kedudukan yang setara. Bukan berbicara kepada obyek&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia;"&gt;Siaran Pendidikan Pemuda (SPP) Titik-Temu Radio ARH, melahirkan komunitas orang muda yang, pertama-tama, memiliki sikap (&lt;i style=""&gt;attitude&lt;/i&gt;) swadaya, mandiri. Mereka tergabung dalam Kelompok Pendengar SPP dan Bengkel Belia ARH. Kegiatan-kegiatan berupa diskusi, teater, perkemahan libur sekolah, dan tentu saja, paket-paket siaran pendidikan, merangsang minat kaum muda untuk menggarap diri, berkreasi melahirkan daya cipta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia;"&gt;Alhasil, anak putus sekolah (tak sedikit juga anak sekolah dan mahasiswa dari berbagai institusi tersohor ikut bergabung) bisa menjadi &lt;i style=""&gt;pede &lt;/i&gt;di sekolah alam raya ARH. Di sini, Mas Zen (Bung Daktur) memfasilitasi orang-orang muda ini untuk menggulirkan kegiatan-kegiatan yang selainkan mengembangkan sikap (&lt;i style=""&gt;attitude&lt;/i&gt;) berdikari, juga berlatih mengembangkan berbagai ketrampilan (&lt;i style=""&gt;skill&lt;/i&gt;): menulis, siaran, berteater, berwiraswasta, dan lain sebagainya. Seri diskusi, pelatihan, konsultasi, juga mampu menambah pengetahuan (&lt;i style=""&gt;knowledge&lt;/i&gt;) anak-anak gang itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia;"&gt;Suasana ini membuat jarak antara pekerja dengan pendengar menjadi cair. Semuanya lebur dalam dalam komunitas belajar bersama dan kerja sama-sama itu. Komunitas ini adalah &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; kecil yang pluralis. Mas Zen memberikan kontribusi luar biasa atas tumbuhnya kesadaran kritis kaum muda dalam komunitas ARH itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" face="georgia" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;b&gt;Guru Pembebasan&lt;/b&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia;"&gt;Bagi saya, Zainal Abidin Suryokusumo (ZAS), atau panggilan akrabnya Mas Zen, dan sapaan di radio ARH: Bung Daktur, adalah seorang pendidik, guru. Namun tidak seperti kebanyakan guru yang cuma memindahkan (mentransfer) pengetahuan kepada muridnya, Mas Zen adalah guru yang membebaskan muridnya berkreasi. Maka radio ARH pada masa Siaran Pendidikan Pemuda masih berjaya, adalah sebuah OASIS di tengah-tengah represi rezim Orde Baru. Sobat-sobat (panggilan akrab antar-kami) sering mengutip ucapan proklamator Bung Hatta: Republik Berpikir Bebas, untuk mencitrakan suasana pergaulan dan perdebatan di Radio ARH, di pojok TIM itu. Itu karena sobat ZAS berusaha menjadi demokrat sejati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia;"&gt;Sosok Radio ARH waktu itu boleh jadi dianggap sebagian kelas menengah sebagai lambang perlawanan. Ia adalah bagian dari sejarah Angkatan ’66 yang meruntuhkan Soekarno, sang proklamator yang pada penghujung pengabdiannya menjadi diktator. Namun juga kemudian bersikap kritis terhadap Soeharto, yang pada ujung kekuasaannya menyuburkan otoritarianisme dan KKN. Sebelum (pada akhirnya) masuk ke dalam keluarga besar GOLKAR, Laskar Ampera Arief Rachman Hakim dianggap sebagai barisan Orde Baru irasional karena sikap kritisnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia;"&gt;Radio ARH kesohor pada masa itu (akhir 70-an sampai 80-an) dengan SIARAN PENDIDIKAN PEMUDA “TITIK TEMU”. Dan, Bung Daktur yang menakhodainya, menjadi citra orang pintar yang bijak dan peduli pada kaum muda yang termarjinalisasi. Orang muda yang tersingkirkan itu terlempar di dalam gang-gang kumuh metro &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;: para pemuda putus sekolah atau DO, yang gampang bergolak karena ditimpa kegamangan nilai-nilai. Banyak dari mereka datang dari desa, para imigran yang kesasar di belantara ibukota. Mereka tersisih dari sekolah-sekolah favorit, fans radio kelas menengah, ormas pemuda atau klub anak muda &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; yang mentereng.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia;"&gt;Siaran Pendidikan Pemuda Radio ARH menyapa para sobat tersisih ini dengan &lt;i style=""&gt;motto&lt;/i&gt;: “Hari Ini dan Esok Kita Punya”. Sebuah upaya untuk mengorganisir motif-motif dalam diri untuk percaya diri, kita bisa bangkit. Ini merupakan upaya pembebasan manusia dari tingkat kesadaran magis yang percaya bahwa sudah takdir ia menderita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia;"&gt;Keyakinan atau kepercayaan magis ini menghina Tuhan. Mungkinkah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang itu menakdirkan manusia ciptaanNya yang paling sempurna, untuk bernasib buruk? Mas Zen “mencambuk” anak-anak muda yang bergabung di Ikatan Pendengar SPP maupun Bengkel Belia ARH, untuk bangkit, percaya kepada kemampuan dirinya, menggali bakat-bakatnya untuk berkreasi melalui bidang apapun yang dikehendaki. Karena itu lahir &lt;i style=""&gt;motto&lt;/i&gt;: “Menggalang Minat, Merangsang Cipta, Menggarap Diri”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia;"&gt;Mas Zen, didukung para pengasuh Siaran Pendidikan Pemuda Radio ARH, bekerja dalam apa yang disebut sebagai “pendidikan pembebasan”. Tentu saja ini diilhami ahli pendidikan orang dewasa, Paulo Freire dari &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Brazil&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Bukunya, Pendidikan &lt;i style=""&gt;Kaum Tertindas&lt;/i&gt;, yang diterbitkan LP3ES tahun 70-an, menjadi bacaan wajib para redaktur dan presenter SPP waktu itu. Di sinilah Mas Zen, Bung Daktur, menjadi tokoh kunci.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;Komunikator. &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia;"&gt;Bung Daktur, juga bukan cuma guru “jago kandang”. Ia juga layak disebut sebagai guru untuk radio siaran swasta nasional secara keseluruhan. Sebagai Sekretaris Jenderal Pertama PRSSNI (Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia), ia terlibat dalam pekerjaan Dewan Pers dan Komisi Penyiaran &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Ia sungguh seorang komunikator yang mengabdi bagi kepentingan orang banyak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0); font-family: georgia;"&gt;Saya bahagia bertemu dan bekerja bersama Mas Zen, sahabat, guru yang membebaskan seperti dia. Juga karena mengenal Uni Ira dan seluruh keluarga yang selalu hangat, akrab dan mengayomi. Saya percaya Mas Zen kembali kepada Sang Pencipta dengan lapang, sementara keluarga yang ditinggalkan tabah dan tegar. Mas Zen telah banyak menyumbangkan gagasan, berucap dan bertindak untuk kemashlahatan banyak orang, melalui media yang digelutinya: dunia radio siaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;st1:city style="font-weight: bold;"&gt;&lt;st1:place&gt;Medan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;st1:date style="font-weight: bold;" year="2007" day="23" month="9"&gt;23 September 2007&lt;/st1:date&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0); font-style: italic;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="IN"&gt;[Arthur J. Horoni. Laki-laki kelahiran Sangihe Talaud, 10 Februari 1947, adalah Direktur Program Radio ARH periode 1973-1983, dan sebelumnya bekerja di Radio Merdeka Surabaya (1970-1973); Kemudian selepas dari Radio ARH, ia bekerja sebagai Redaktur Majalah Fokus (1983-1084); Redaktur Majalah Oikumene (1984-1992); Koordinator Program Center for Indonesian Migran Worker, Jakarta (1998-2002): Manajer Program Yakoma PGI (1992-2005); Wakil Direktur Yakoma PGI (2004-2005); Direktur Yakoma PGI (2006). Dan, ketika membuat tulisan ini, Arthur John Horoni adalah &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:85%;"  lang="IN"&gt;Program Coordinator Center For Popular Education, Medan, sejak 2006.]&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;                  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; color: rgb(255, 204, 102);font-family:arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1417497512382010708-6775374816538431428?l=bungdaktur-arh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungdaktur-arh.blogspot.com/feeds/6775374816538431428/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1417497512382010708&amp;postID=6775374816538431428' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1417497512382010708/posts/default/6775374816538431428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1417497512382010708/posts/default/6775374816538431428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungdaktur-arh.blogspot.com/2007/10/mas-zen-sang-guru-pembebasan.html' title='Mas Zen Sang Guru Pembebasan'/><author><name>Billy Soemawisastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13333083922610946230</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_xs69eKlboEg/SKw-Y3SIYyI/AAAAAAAAAK4/fb6e7KbWWDI/S220/bang+billy+3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_xs69eKlboEg/RysDdlzc1PI/AAAAAAAAAAk/0-vFfBRXpro/s72-c/ARTHUR+FAHMI+ZAS.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry></feed>
